serba-serbi
dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)Mengatasi anak/bayi bangun di tengah malam
Anak/bayi bangun di tengah malam memang akan menguras tenaga orangtuanya karena harus melayaninya.
Namun sampai kapan bayi terbangun di tengah malam karena benar-benar memerlukan bangun (lapar), bukan sekedar memerlukan perhatian?
Saya lupa kapan persisnya anak saya bisa tidur tanpa terbangun di tengah malam karena lapar. Mungkin sekitar 1 tahun.
Pada usia demikian kalau anak bangun tengah malam, belum tentu dia kelaparan. Jika yakin anak sudah kenyang makan dan minum susu, seharusnya dia tidak lagi kelaparan karena lambungnya sudah cukup besar menampung makanan yang cukup sampai pagi. Sama seperti kita yang tidak lapar ketika tidur lelap di malam hari.
Seringkali anak umur segitu terbangun karena terbiasa terbangun dan dilayani (digendong atau diberi susu) – semacam mencari perhatian.
Sudah saatnya pada usia lewat dari 1 tahun dibiasakan kalau malam itu tidak perlu terbangun lagi.
Caranya adalah dengan tidak memberikan apa yang dia minta. Tidak digendong, tidak diajak bermain/berbicara, atau tidak diberi susu.
Cukup ditepuk-tepuk/dibelai sedikit dengan kondisi kamar tetap gelap, sambil dibisikkan “tidur lagi ya, masih malam”.
Kalau memang tampak haus, cukup berikan air putih-jangan susu, apalagi susu di botol.
Bisa jadi anak akan merengek (namanya juga usaha-kata sang anak). Tahan saja, nanti juga dia tertidur lagi
Lama kelamaan sang anak akan ‘kapok’ karena merasa percuma bangun, tidak diberi apa-apa. Akhirnya dia akan terbiasa tidur sepanjang malam.
Seperti pada umumnya berurusan dengan memberikan kebiasaan baru kepada anak, tidak bisa dijamin memberikan hasil dengan cepat. Paling tidak 3 malam kebiasaan itu mungkin masih berulang, bahkan mungkin juga ada yang sampai 1 minggu atau lebih.
Namun demi kepuasan tidur yang panjang dimasa depan sang orangtua… layak diusahakan, bukan?
Menciptakan anak suka makan sayur
Mengajarkan anak belajar makan sayur itu bukan pekerjaan mudah mengingat rasa sayur yang lebih tidak enak daripada rasa makanan lainnya (buah atau daging/ikan/ayam).
Saya memulainya ketika anak saya mulai makan untuk pertama kalinya pada usia 4 bulan. Dibiasakan makan sayur terlebih dahulu sebelum makan buah dan daging/ikan/ayam.
Dengan demikian dia terbiasa dengan rasa-rasa sayur tersebut.
Alhamdulillah sekarang (6thn), anak saya mau memakan sayur apapun (kecuali pare kali ya…-belum mau karena terlalu pahit)
Kalau sekarang (keburu besar anaknya) masih belum mau makan sayur, mungkin bisa dicoba membuat sayur tampak lebih menyenangkan untuk dimakan. Atau mengajak anak untuk terlibat memasak si sayur tersebut sehingga menarik sang anak untuk memakannya juga.
Rebus wortel mungkin bisa dijadikan awal yang baik, mengingat rasa wortel juga relatif manis juga mudah dikunyah (seratnya tidak terlalu alot) dibandingkan sayur lain.Bisa dilanjutkan ke sayur-sayur lain yang rasanya juga masih sekitaran manis (jagung, labu, buncis) . Kalau sudah terbiasa, baru mulai pindah ke sayur yang kurang manis rasanya (brokoli, daun singkong, bokcoy).
Jangan lupa, orangtuanya juga harus memberi contoh makan sayur yang banyak dan tampak senang mengkonsumsinya.
Rumah Bermain Padi – Montessori Islami – Playgroup/TK
Untuk Rumah Bermain Padi…
Jl. Cigadung Raya Timur 106, Bandung
022-2500372
Rumah Bermain Padi adalah bagaikan oasis di tengah padang pasir. Dengan halamannya yang luas dan hijau, bangunan yang unik, mainan dan alat peraga yang sangat banyak, serta perbandingan guru murid yang memadai telah menjawab kedahagaan atas fasilitas pendidikan yang baik untuk anak Dhika. Cinta pada pandangan pertama.
Dalam perjalanannya Rumah Bermain Padi tidak hanya memberikan fasilitas fisik yang baik namun juga telah memberikan fasilitas non fisik yang sangat memuaskan. Bunda yang sangat penyabar dan perhatian terhadap muridnya, materi pelajaran yang sangat luas, serta metoda pengajaran yang unik dan mudah dicerna oleh anak-anak.
Montessori bernafaskan Islami yang pada awalnya bukan merupakan prioritas dalam pemilihan sekolah ternyata telah berjasa dalam memperkenalkan anak atas konsep-konsep pelajaran dan pengetahuan pada tingkat selanjutnya, kehidupan sehari-hari, dan yang terpenting adalah pengenalan terhadap agamanya sendiri yakni Islam.
Terima kasih untuk Bunda Julia yang telah membuat fasilitas yang sangat nyaman dan membawa virus Montessori ke Bandung serta mengolahnya menjadi lebih menarik dengan memberikan nafas Islami ke dalamnya.
Terima kasih untuk para Bunda yang sudah begitu sabar dan telaten memperkenalkan ‘dunia’ kepada Dhika serta memfasilitasi dan membantunya dalam belajar bersosialisasi dengan teman-temannya.
Terima kasih untuk Pak Ijang dan teman-temannya yang telah membantu menjaga dan juga melayani keperluan anak-anak.
Mohon maaf jika selama ini kami melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan Bunda dan Bapak sekalian.
Semoga silaturahmi yang terjalin dapat terus berlanjut.
Berat badan anak
Dalam tulisan ini saya menyoroti makanan dan minuman yang membuat berat badan meningkat secara langsung, bukan yang meningkatkan nafsu makan.
Setiap orang tua pasti ada masanya mempermasalahkan berat badan anaknya.
Kurang berat, umumnya.
Diberikanlah makanan dan minuman ajaib ini itu yang dapat membuat berat badan sang anak meningkat. Produk canggih A, B, dan C menjadi pilihan penyelesaian masalah berat badan ini berapapun biayanya dengan dalil demi kebaikan anak.
Jika dipikir lagi, apakah produk-produk ini menyelesaikan masalah pokok kurangnya berat badan anak kita yang mungkin disebabkan oleh anak kita tidak suka makan atau memang bawaan genetis yang kecil?
Apa gunanya ukuran badan anak kita menjadi besar, namun tidak bisa belajar makan dengan cara dan menu yang baik?
Apa gunanya memaksa anak yang bawaan genetisnya kecil menjadi besar sehingga walau sudah diberi makan sebakul pun dia tetap kecil?
Hanya karena demi anaknya enak dilihat karena tidak tampak kurus? Atau tidak malu jika anaknya kemudian disandingkan dengan anak lain yang montok?
Apakah anak kita menikmati badannya yang besar ini? Mungkin juga tidak. Mungkin dia lebih suka badannya kurus-kurus saja karena bisa lebih mudah jingkrak-jingkrak.
Apa salahnya memiliki anak yang kurus jika dia sudah terpenuhi asupan gizinya melalui makanan ‘asli’.
Saya tidak pernah ingat diri saya bertubuh montok pada saat kecil; namun seiring dengan waktu badan saya membesar juga, alhamdulillah bisa kuliah di ITB juga.
Menurut saya memastikan bahwa anak memakan dan terbiasa memakan makanan ‘asli’ bergizi lengkap lebih penting daripada sekedar meningkatkan berat badannya.
Terlalu banyak makanan di bumi ini untuk dijelajahi. Beribu resep sudah tercipta untuk mengolah bahan makanan tersebut. Mari bereksplorasi, berpetualang dalam menyajikan makanan yang terbaik untuk anak kita. Jangan cepat putus harapan dan beralih ke produk instan yang hanya menghilangkan sakit kepala kita dalam mengatasi masalah makan anak.
Berat badan anak saya ketika bayi -batita tidak pernah berada lebih dari rata-rata berat bayi pada umumnya, namun saat ini alhamdulilah dia tumbuh juga, membesar juga, makan banyak juga, kuat juga, dan pintar juga. Dan saya tidak menggantungkan diri kepada produk-produk ajaib itu (pernah sebentar, lalu berhenti – lihat ini).
Tidak sampai berperut buncit sih… (siapa juga yang perlu perut buncit)
Cukuplah…
Seperti kata dokternya ketika masih di Amrik:
Selama berat badan anaknya meningkat…. It’s OK!
Mengapa memasak untuk bayi?
Berbagai alasan saya pakai ketika anak saya bayi dan saya memasak hampir semua makanan yang dia makan.
1. Terjamin halal (dulu saya di Amrik ketika anak saya bayi)
2. Irit
3. Bebas pengawet
4. Jelas bahan bakunya, jelas kandungan gizinya
5. Mudah, ternyata tidak sesulit yang pernah dibayangkan (lebih sulit menyiapkan makanan untuk bapaknya
). Silakan membaca http://ndew.wordpress.com/2007/03/13/membuat-makanan-bayi-sendiri/
Namun dengan hanya berbekal 5 poin di atas, tanpa disangka didapat bonus juga. Hingga kini anak saya (5 thn) tidak hobi jajan, tidak hobi memakan makanan ringan kemasan, dan sangat cepat menyatukan selera makan dengan kami orangtuanya.
Usia 10 bulan sudah memakan nasi (digecek-gecek) memakai sup sayur (sayurnya dipotong kecil-kecil sekali), tanpa diblender. Sekarang sudah bisa makan hampir semua makanan saya, kecuali makanan yang terlalu pedas (sedikit pedas, alhamdulillah sudah bisa).
Jika ada cookies, wafer, atau keripik dan cemilan kemasan lainnya yang penuh pengawet, gula, dan msg di rumah kami, lebih sering benda-benda itu berakhir di tempat sampah dibandingkan di perut anak saya.
Juga dengan cemilan-cemilan bukan kemasan lainnya seperti gorengan, jajajan pasar, atau kue-kue, alhamdulillah beliau tidak begitu tertarik. Lebih senang mengemil buah-buahan segar.
Diluar perkiraan, ternyata jerih payah dahulu memasak untuk bayi saya memberikan hasil yang lebih dari sekedar pengiritan.
Jadi, mengapa tidak memasak untuk bayi?