serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga

c_recycle_bin_ikea
Pernah melihat gunungan sampah di TPA (tempat pembuangan sampah akhir)?

Semakin hari semakin tinggi gunungan sampah di TPA. Di kota Bandung sempat menjadi masalah besar sendiri ketika TPA lama sudah penuh dan belum ada lahan pengganti untuk TPA baru. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA katanya berasal dari sampah rumah tangga. Iya, sampah rumah kita semua.

Daripada menggerutu dan menanti-nantikan aksi dari pemerintah, kita bisa melakukan usaha kecil-kecilan di rumah sendiri untuk mengurangi masalah sampah ini.

Anda tentu pernah tahu ada beberapa saudara kita yang bekerja sebagai pemulung dari tempat-tempat sampah.Atau tukang loak yang bisa membeli segala ‘sampah’ dirumah anda umumnya dengan menimbang berat barang yang anda kumpulkan.

Apa yang mereka pulung?
Apapun yang mereka bisa jual kembali baik secara langsung atau tidak langsung kepada para usahawan pendaur ulang.
Plastik, bekas gelas/botol minum plastik, botol kaca, kertas, dus, atau apapun yang bisa didaur ulang alias bisa dimanfaatkan kembali.

Semakin bersih benda-benda di atas, semakin baik dan semakin mudah untuk didaur ulang. Kalau sampah yang bisa didaur ulang ini sudah tercampur dengan sampah basah di rumah anda, lebih susah memilahnya dan memanfaatkannya.

Apa yang dimaksud dengan sampah basah?
Segala sampah yang bisa membusuk. Sisa potongan sayur untuk memasak, daging, makanan sisa, daun-daun yang berguguran, potongan rumput, dsb.

Jadi bagaimana caranya memilah sampah?
Idealnya di rumah anda disediakan tiga buah tempat sampah;
1. untuk sampah basah atau kadang disebut sampah organik
2. untuk sampah plastik, kaleng, dan kaca
3. untuk sampah kertas

Sampah plastik, kaleng, kaca, dan kertas bisa anda kumpulkan dan jual ke tukang loak atau dibuang juga ke tempat pembuangan sampah dan kira-kira cukup membantu para pemulung untuk mendapatkan barang yang agak bersih.

Idealnya sih mungkin TPA pemerintah juga terdiri dari tiga kategori pembagian sampah ini,  tapi.. mungkin pemerintah menunggu percontohan dari para warganya dulu :D

Bagaimana dengan sampah basahnya?
Bisa anda buang juga, namun lebih baik dimanfaatkan lagi sendiri. Saat ini saya sedang mencoba memanfaatkan sampah basah saya untuk membuat kompos (pupuk alami) yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Bagaimana caranya? Semoga bisa bersambung ditulisan berikutnya.

4 Komentar»

  Membuat Kompos di Rumah « serba-serbi wrote @

[...] tanah. Bahan organik, gunakan bahan organik dari sampah rumah tangga anda (silakan baca tulisan Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga). Apakah bau atau menjijikan? Selain geli melihat sang cacing, pembuatan vermikompos ini jauh dari [...]

  mamah ani wrote @

memang semua orang harus ikut aktif dalam pengolahan sampah ini ya

yg terjadi diseputarku sih, walaupun sudah disiapkan tempat sampah organik dan non organik….eh…pagi pagi pemulung mengacak acak, mengaduk aduknya kembali…heheheheh

  ninik wrote @

kalo sampah basah non organik (mis. kapas, pembalut, pampers bayi, plastik bekas wadah makanan basah) … dikategorikan atau dibuang di kotak mana ya …..

  ndew wrote @

Masuk non organik.
Kapas, pembalut, dan popok bayi sayangnya tidak bisa didaur ulang.
Plastik wadah makanan basah umumnya bisa didaur ulang.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.