serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Tips Melahirkan Normal

Pulang ke Indonesia membuat saya terperangah mengingat besarnya jumlah kasus melahirkan melalui proses caesar dibandingkan dengan proses normal (vaginal) terutama pada kalangan menengah ke atas. Dari 5 saudara dan teman yang melahirkan, bisa dibilang 3 darinya melahirkan caesar.

Dulu, lagi di Amerika… dari 5 kelahiran, bisa dibilang semuanya melahirkan dengan cara normal bukan caesar meskipun memang dibantu dengan epidural.

http://americanpregnancy.org/labornbirth/epidural.html

Di Amerika caesar sepertinya hanya dilakukan pada saat diperlukan saja, mendesak, dan memerlukan pertimbangan yang sangat mendalam sehingga sangat jarang dilakukan.

Menurut teman dan adik saya yang pernah mengalami caesar dan melahirkan normal (anak pertama caesar-prematur, anak kedua normal — iya, setelah caesar sangat memungkinkan untuk melahirkan normal), kalau akan melahirkan lagi mereka akan memilih melahirkan normal.

Alhamdulillah saya melahirkan kedua anak saya tanpa komplikasi, sehingga tidak diperlukan operasi caesar.

Berdasarkan pengalaman saya, berikut tips bila ingin sukses melahirkan normal…

1. Bulatkan tekad dan niat untuk melahirkan normal

Pelajari baik buruk melahirkan normal atau cara caesar, sehingga cukup yakin bahwa melahirkan normal adalah yang anda pilih.

Satu hal yang saya baru tahu…. menurut dokter anak saya, dengan melahirkan normal mengurangi resiko bayi kuning dan mempercepat pembuangan cairan dari dalam tubuh bayi karena melalui proses pemerasan ketika berusaha keluar dari tubuh ibunya.

2. Sadarilah melahirkan itu adalah proses yang menyakitkan, jadi jangan pernah berharap proses ini sedikitpun lebih tidak sakit dari yang dibayangkan.

Bayangkan, kita sebagai ibu diberi tanggungjawab yang sangat besar yakni mengurus sebuah makhluk ciptaan Tuhan dari sejak di rahim hingga makhluk itu atau kita meninggal. Bagaimana mungkin kita berharap tidak melalui proses yang memberatkan…..Untuk masuk SMP aja perlu ada ospek dulu…

Meskipun demikian… percayalah bahwa Tuhan tidak akan memberatkan umatnya melebihi kemampuannya. Jadi, seberat-beratnya proses melahirkan ini, sudah dihitung pasti dapat dilalui setiap insannya. Apalah arti sakit beberapa jam dibandingkan dengan 9 bulan hamil yang tidak kalah merepotkan, apalagi pengasuhan sang anak setelah lahir. Sangat tidak sebanding…

Tetap sabar, pasrah, serta berpikir positif bahwa ini hanya sebuah proses… jalani saja.

Biasanya pada setiap kontraksi saya akan berkata kepada diri sendiri ‘ayo de..sebentar lagi insya allah kita bertemu’, ‘good job de…terus dorong…’

Begitu sang bayi lahir… anehnya semua rasa sakit, kantuk, lelah akan hilang begitu saja..digantikan rasa senang, takjub, syukur, dan lainnya…

Sebenarnya kalau dilihat, proses penyembuhan melahirkan normal sangat cepat dibandingkan melahirkan caesar. Setelah melahirkan normal, rasa sakit yang sebelumnya dirasakan langsung hilang. Saya sudah bisa membukakan pintu kamar ruang rawat untuk tamu, membawa bayi berjemur, bahkan jika anda melahirkan di bidan tidak lama setelah melahirkan sudah diperbolehkan pulang.

Sementara jika melalui operasi caesar, sedikitnya sehari semalam tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur. Karena lukanya juga yang lebih besar, hingga sekian lama tidak boleh melakukan kegiatan yang berat termasuk menggendong bayi.

3. Tetap aktif

Melahirkan adalah proses yang cukup memakan tenaga. Untuk itu badan kita diperlukan berada dalam kondisi prima ketika akan menjalaninya. Jaga kesehatan dan tetap aktif, kalau perlu lakukan beberapa latihan olahraga yang dapat mendukung proses kelahiran.

4. Jaga berat badan

Salah satu penyebab besarnya kasus caesar adalah ukuran bayi yang terlalu besar.

Yang perlu diperhatikan adalah pada 2 trisemester pertama, makanan yang dimakan oleh ibu hamil sebagian besar akan menjadi badan sang ibu. Pada saat ini ukuran jabang bayi belum membesar dengan signifikan. Jadi kalau ibu hamil makan berlebih pada saat ini, besar kemungkinan badan ibu tersebit akan membesar dengan berlebih juga yang berdampak pada sulitnya mengembalikan berat badan ibu setelah melahirkan.

Pada trisemester terakhir, makanan yang dikonsumsi ibu hamil dengan cara berlebih akan menjadi bagian dari bayinya. Trisemester terakhir ini adalah saatnya bayi mengisi badannya. Dengan demikian, jika sang ibu hamil makan berlebih pada saat ini, besar kemungkinan sang bayi juga akan menjadi besar secara berlebih. Pada saat ini juga perlu diperhatikan adanya masalah gestational diabetes pada ibu hamil.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001898/

Lalu apakah ibu hamil tidak boleh makan berlebih?

Ibu hamil memang akan merasa lapar lebih dari biasanya untuk pembuatan rahim, suplai makanan ke bayi, pertumbuhan bayi, serta memerlukan tenaga lebih dalam membawa jabang bayi kemana-mana. Namun demikian, dalam setiap makan untuk mengatasi rasa lapar ini perlu diperhatikan menu makanan yang dimakan oleh ibu. Setiap gigitan sebaiknya merupakan gigitan yang bergizi dan memang mengenyangkan. Hindari makan makanan manis  dan berlemak secara berlebih, karena ini hanya akan menambah berat badan, tanpa gizi tanpa rasa kenyang. Boleh sih… tapi jangan sering-sering…

Saya pernah mencoba memakan eskrim (2kali) dan jus (lupa berapa kali) pada usia kehamilam 8 bulan, dalam 2 minggu jabang bayi saya bertambah 600 gram beratnya!

Berapa pertambahan berat yang ideal?

Amerika menetapkan 11-15g bila berat badan sebelum hamilnya adalah normal. Bila berat badan sebelumnya dibawah normal, maka kenaikannya disarankan lebih dari 12 kg. Bila berat badan lebih dari normal, kenaikannya disarankan kurang dari 12 kg.

Jepang menyarankan 7-12kg.

Indonesia sepertinya berkiblat ke Amerika. Walaupun menurut saya kalau melihat dari postur tubuh yang lebih mirip Jepang, seharusnya kita berkiblat ke Jepang yakni kenaikan 7-12kg.

Berapa berat bayi pada saat lahir yang ideal?

Sepertinya di Indonesia berat bayi diatas 3,4 kg sudah disarankan caesar. Kalau di Jepang, berat bayi disarankan 2,8 kg pada saat dilahirkan. Saya sendiri biasanya mentargetkan 3kg. Yang jelas, kalau bayinya tidak terlalu besar, melahirkannya akan lebih mudah.

4. Jangan terburu-buru ke rumah sakit

Kenapa?

Karena proses melahirkan itu umumnya cukup panjang, sementara berada di rumah sakit tidak akan mempercepat proses melahirkan malah umumnya membuat kita menjadi gelisah sambil berharap-harap cemas atau bahkan akan merasa perlu untuk mempercepat kelahiran melalui induksi padahal belum tentu diperlukan.

Menurut http://www.parents.com/pregnancy/giving-birth/signs-of-labor/signs-of-labor/ Sejak pertama kali terjadi kontraksi hingga waktu melahirkan bisa memakan waktu satu hingga dua hari. Waktu melahirkan biasanya dinyatakan mulai pada saat bukaan 4. Rumah sakit di Amerika baru akan menerima pasien melahirkan apabila telah masuk bukaan 4. Jika masih bukaan 3 apalagi bukaan 1 pasien akan disuruh pulang, kecuali ada komplikasi tentunya.

Kapan sebaiknya ke rumah sakit?

Untuk kasus normal, bukan yang komplikasi (kurang dari 37 minggu, bayi kembar, atau ada masalah lain) disarankan datang ke rumah sakit apabila mengalami kontraksi yang berulang dan kuat dengan jarak 5 menit antar kontraksinya selama satu atau dua jam.

Atau harus pergi tanpa menunda bila

-pecah ketuban

– mengalami pendarahan

– bayi tidak bergerak

– muka atau tangan bengkak

– penglihatan buram

– sakit kepala

– pusing

– sakit di perut yang amat sangat

– kejang

Rumah jauh dari rumah sakit atau takut macet?

Saran saya silakan dekati rumah sakit anda, namun apabila kontraksi belum seperti yang disebutkan diatas, mampir saja ke mall atau tempat makan terdekat. Istirahat dan jalan-jalan ringan di sana, jangan sampai terlalu lelah juga. Datang ke rumah sakit apabila menurut anda sudah waktunya dan semoga  sudah masuk bukaan 4 sehingga anda tidak perlu berlama-lama di rumah sakit menunggu kelahiran.

http://www.babycenter.com/stages-of-labor?page=1

5. Cari pendapat lain

Jika pada suatu titik di kehamilan divonis harus dilakukan caesar, sebaiknya cari pendapat lain. Cari di internet atau buku tentang kasus serupa, serta bertanya pada dokter atau ahli yang lain. Pastikan bahwa memang caesar adalah pilihan satu-satunya, baru melakukan caesar. Dokter atau ahli kandungan memiliki berbagai pendapat atau kebiasaan dalam mengatasi kasus-kasus melahirkan, dengan demikian diperlukan beberapa pendapat dokter agar lebih pasti untuk memutuskan suatu tindakan besar seperti melakukan caesar.

6. Kalau ini itu sudah dilakukan, namun belum juga bisa melakukan kelahiran normal…. mungkin namanya takdir ya… yang penting kita sudah berusaha….

Selamat menikmati kehamilan…..

Baca juga:

https://ndew.wordpress.com/2007/07/26/hamil-dan-melahirkan-di-amerika/

Sumber:

http://www.survivingnjapan.com/2011/05/pregnant-in-japan-diet-nutrition-and.html

http://www.webmd.com/baby/guide/healthy-weight-gain

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001898/

http://pregnancy.familyeducation.com/labor-and-delivery/signs-and-stages-of-labor/35965.html?page=2

Clodi (popok kain)

2013-01-13 14.47.14

Alhamdulillah setelah tujuh tahun berlalu dengan hanya satu anak… akhirnya kami diberi kepercayaan mengurus anak lagi.. Karim. Salah satu perkembangan perbayian saat ini yang saya suka adalah popok kain (cloth diaper disingkat clodi-dibaca klodi).

Clodi ini ada berbagai bentuk dan model (insya allah menyusul tulisannya), yang jelas saya memakai ini karena:

1. Ekonomis.

Harga clodi pada saat ini sekitar Rp 55.000 – Rp 300.000, dari mulai produk lokal hingga produk impor Cina, Amerika, Eropa.

Mengapa ekonomis? Coba dihitung…

Kalau memakai popok sekali pakai (disposable- pampers, huggies, popok, dll) dalam sehari akan menghabiskan 4-5 popok. Harga satuan popok misalnya sekitar Rp 1.500-Rp 2.000. Jadi sehari membutuhkan Rp 7.500 – Rp 10.000, sebulan Rp 225.000 – Rp 300.000, setahun Rp 2,7 jt – Rp 3,6 jt.

Sementara kalau memakai clodi, dengan stok 10 clodi (diperkirakan sehari memakai 5 clodi), maka akan memakai biaya Rp 500rb dan bisa dipakai hingga lebih dari 2 tahun. (Pnya saya sudah berumur 18 bulan dan masih sangat bagus).

2. Ramah lingkungan

Kenapa? Karena dengan memakai popok sekali pakai, setiap hari akan memproduksi 4-5popok, yang berarti 1200-1500 popok pertahun untuk setiap bayi. Entah berapa popok yang menjadi sampah untuk semua bayi sebumi raya ini.

Tahukah Anda bahwa popok bayi itu tidak dapat hancur sampai 200-500 tahun sejak dibuang ke tempat sampah?

Sementara clodi dapat dipakai untuk satu bayi bahkan masih bisa diturunkan atau dipakai kembali oleh bayi lainnya.

3. Lembut

Bahan clodi yang ada di pasaran umumnya memakai bahan yang sangat lembut, sehingga masalah ruam di kulit bayi dapat dikurangi dengan sangat drastis. Hingga kini (18 bulan) alhamdulillah anak saya tidak pernah terkena ruam.

4. Bebas bahan kimia

Popok sekali pakai, sama seperti pembalut wanita mengandung banyak bahan kimia yang berbahaya untuk bayi bahkan diantaranya dapat menyebabkan penyakit kanker. Kalau wanita memakai bahan ini 7 hari dalam sebulan, bayangkan bayi-bayi itu memakainya sepanjang hari hingga mereka bisa buang air sendiri.

 

Bagaimana dengan isu mencuci popoknya membuat jadi lebih tidak ekonomis atau tidak ramah lingkungan karena menggunakan listrik yang banyak.?

1. Sabun untuk mencuci popok ini sangat sedikit, karena kalau menggunakan sabun terlalu banyak akan mengurangi daya serap popoknya. Jadi selain tidak terlalu mahal, juga tidak terlalu banyak mencemari air di selokan.

2. Kalau mahal mencuci pakai mesin, bisa dicuci menggunakan tangan saja. Kalau saya, mengumpulkan popoknya dan dicuci setiap 2 hari. Jangan khawatir tentang pengeringan, cukup dijemur biasa umumnya akan kering dalam satu hari. Tidak seperti di negara 4 musim dimana matahari tidak bisa diandalkan untuk mengeringkan pakaian sehingga diperlukan mesin pengering yang listriknya besar.

 

Jadi berapa  banyak bagusnya stok clodi yang dimiliki?

10 adalah jumlah yang cukup rasional, namun kalau mau berjaga-jaga apabila hari hujan atau mencuci popoknya 2 hari sekali maka 15 buah atau lebih adalah jumlah yang cukup nyaman.

Sumber

http://www.realdiaperassociation.org/diaperfacts.php

Mengatasi anak/bayi bangun di tengah malam

Anak/bayi bangun di tengah malam memang akan menguras tenaga orangtuanya karena harus melayaninya.
Namun sampai kapan bayi terbangun di tengah malam karena benar-benar memerlukan bangun (lapar), bukan sekedar memerlukan perhatian?

Saya lupa kapan persisnya anak saya bisa tidur tanpa terbangun di tengah malam karena lapar. Mungkin sekitar 1 tahun.
Pada usia demikian kalau anak bangun tengah malam, belum tentu dia kelaparan. Jika yakin anak sudah kenyang makan dan minum susu, seharusnya dia tidak lagi kelaparan karena lambungnya sudah cukup besar menampung makanan yang cukup sampai pagi. Sama seperti kita yang tidak lapar ketika tidur lelap di malam hari.

Seringkali anak umur segitu terbangun karena terbiasa terbangun dan dilayani (digendong atau diberi susu) – semacam mencari perhatian.
Sudah saatnya pada usia lewat dari 1 tahun dibiasakan kalau malam itu tidak perlu terbangun lagi.

Caranya adalah dengan tidak memberikan apa yang dia minta. Tidak digendong, tidak diajak bermain/berbicara, atau tidak diberi susu.
Cukup ditepuk-tepuk/dibelai sedikit dengan kondisi kamar tetap gelap, sambil dibisikkan “tidur lagi ya, masih malam”.
Kalau memang tampak haus, cukup berikan air putih-jangan susu, apalagi susu di botol.
Bisa jadi anak akan merengek (namanya juga usaha-kata sang anak). Tahan saja, nanti juga dia tertidur lagi

Lama kelamaan sang anak akan ‘kapok’ karena merasa percuma bangun, tidak diberi apa-apa. Akhirnya dia akan terbiasa tidur sepanjang malam.

Seperti pada umumnya berurusan dengan memberikan kebiasaan baru kepada anak, tidak bisa dijamin memberikan hasil dengan cepat. Paling tidak 3 malam kebiasaan itu mungkin masih berulang, bahkan mungkin juga ada yang sampai 1 minggu atau lebih.

Namun demi kepuasan tidur yang panjang dimasa depan sang orangtua… layak diusahakan, bukan?

Update:

Saya baru saja selesai mengembalikan anak 18 bulan tidur di tempat tidurnya sendiri (sebelumnya tidur bersama saya). Berdasarkan pengalaman saya sepertinya lebih mudah prosesnya pada abangnya yang pada waktu itu dipisahkan ketika usia 12 bulan.

Anak kedua ini terus menangis sebelum tidur selama 2 minggu, tapi tetap saya biarkan. Setiap kali dia bangun dari tempat tidurnya saya kembalikan dia ke posisi tidur sambil dibisiki ‘tidur sendiri ya.. tidak apa-apa…ibu ada di sebelah’. Lampu kamar sudah mati tentunya.. terus berulang-ulang. Seingat saya pada malam pertama anak saya menangis dan bulak balik bangun selama 30 menit. Malam kedua 15 menit, malam berikutnya hanya syarat saja untuk nangis. Selama sebulan lebih masih suka nangis-nangis…tapi tidak apa-apa…

Tengah malamnya pada awal-awal tentu masih terbangun dan merengek mjnta tidur bareng lagi. Tapi hanya saya beri asi sebentar lalu dikembalikan tidur di kasurnya melalui proses nangis lagi tentunya. Setelah beberapa hari, kalau dia bangun hanya saya beri air putih. Setelah beberapa lama akhirnya dia tidur sepanjang malam juga..dari jam 7.30 an atau jam 8.00 malam hingga pukul 4.00… baru setelah itu saya beri asi dan pindah ke tempat tidur saya..

Lumayan kan…

Menciptakan anak suka makan sayur

Mengajarkan anak belajar makan sayur itu bukan pekerjaan mudah mengingat rasa sayur yang lebih tidak enak daripada rasa makanan lainnya (buah atau daging/ikan/ayam).

Saya memulainya ketika anak saya mulai makan untuk pertama kalinya pada usia 4 bulan. Dibiasakan makan sayur terlebih dahulu sebelum makan buah dan daging/ikan/ayam.
Dengan demikian dia terbiasa dengan rasa-rasa sayur tersebut.
Alhamdulillah sekarang (6thn), anak saya mau memakan sayur apapun (kecuali pare kali ya…-belum mau karena terlalu pahit)

Kalau sekarang (keburu besar anaknya) masih belum mau makan sayur, mungkin bisa dicoba membuat sayur tampak lebih menyenangkan untuk dimakan. Atau mengajak anak untuk terlibat memasak si sayur tersebut sehingga menarik sang anak untuk memakannya juga.

Rebus wortel mungkin bisa dijadikan awal yang baik, mengingat rasa wortel juga relatif manis juga mudah dikunyah (seratnya tidak terlalu alot) dibandingkan sayur lain.Bisa dilanjutkan ke sayur-sayur lain yang rasanya juga masih sekitaran manis (jagung, labu, buncis) . Kalau sudah terbiasa, baru mulai pindah ke sayur yang kurang manis rasanya (brokoli, daun singkong, bokcoy).

Jangan lupa, orangtuanya juga harus memberi contoh makan sayur yang banyak dan tampak senang mengkonsumsinya.

Rumah Bermain Padi – Montessori Islami – Playgroup/TK

Untuk Rumah Bermain Padi…

Jl. Cigadung Raya Timur 106, Bandung

022-2500372

Rumah Bermain Padi adalah bagaikan oasis di tengah padang pasir. Dengan halamannya yang luas dan hijau, bangunan yang unik, mainan dan alat peraga yang sangat banyak, serta perbandingan guru murid yang memadai telah menjawab kedahagaan atas fasilitas pendidikan yang baik untuk anak Dhika. Cinta pada pandangan pertama.

Dalam perjalanannya Rumah Bermain Padi tidak hanya memberikan fasilitas fisik yang baik namun juga telah memberikan fasilitas non fisik yang sangat memuaskan. Bunda yang sangat penyabar dan perhatian terhadap muridnya, materi pelajaran yang sangat luas, serta metoda pengajaran yang unik dan mudah dicerna oleh anak-anak.

Montessori bernafaskan Islami yang pada awalnya bukan merupakan prioritas dalam pemilihan sekolah ternyata telah berjasa dalam memperkenalkan anak atas konsep-konsep pelajaran dan pengetahuan pada tingkat selanjutnya, kehidupan sehari-hari, dan yang terpenting adalah pengenalan terhadap agamanya sendiri yakni Islam.

Terima kasih untuk Bunda Julia yang telah membuat fasilitas yang sangat nyaman dan membawa virus Montessori ke Bandung serta mengolahnya menjadi lebih menarik dengan memberikan nafas Islami ke dalamnya.

Terima kasih untuk para Bunda yang sudah begitu sabar dan telaten memperkenalkan ‘dunia’ kepada Dhika serta memfasilitasi dan membantunya dalam belajar bersosialisasi dengan teman-temannya.

Terima kasih untuk Pak Ijang dan teman-temannya yang telah membantu menjaga dan juga melayani keperluan anak-anak.

Mohon maaf jika selama ini kami melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan Bunda dan Bapak sekalian.

Semoga silaturahmi yang terjalin dapat terus berlanjut.

Berat badan anak

Dalam tulisan ini saya menyoroti makanan dan minuman yang membuat berat badan meningkat secara langsung, bukan yang meningkatkan nafsu makan.

Setiap orang tua pasti ada masanya mempermasalahkan berat badan anaknya.

Kurang berat, umumnya.

Diberikanlah makanan dan minuman ajaib ini itu yang dapat membuat berat badan sang anak meningkat. Produk canggih A, B, dan C menjadi pilihan penyelesaian masalah berat badan ini berapapun biayanya dengan dalil demi kebaikan anak.

Jika dipikir lagi, apakah produk-produk ini menyelesaikan masalah pokok kurangnya berat badan anak kita  yang mungkin disebabkan oleh  anak kita tidak suka makan atau memang bawaan genetis yang kecil?

Apa gunanya ukuran badan anak kita menjadi besar, namun tidak bisa belajar makan dengan cara dan menu yang baik?

Apa gunanya memaksa anak yang bawaan genetisnya kecil menjadi besar sehingga walau sudah diberi makan sebakul pun dia tetap kecil?

Hanya karena demi anaknya enak dilihat karena tidak tampak kurus? Atau tidak malu jika anaknya kemudian disandingkan dengan anak lain yang montok?

Apakah anak kita menikmati badannya yang besar ini? Mungkin juga tidak. Mungkin dia lebih suka badannya kurus-kurus saja karena bisa lebih mudah jingkrak-jingkrak.

Apa salahnya memiliki anak yang kurus jika dia sudah terpenuhi asupan gizinya melalui makanan ‘asli’.

Saya tidak pernah ingat diri saya bertubuh montok pada saat kecil; namun seiring dengan waktu badan saya membesar juga, alhamdulillah bisa kuliah di ITB juga.

Menurut saya memastikan bahwa anak memakan dan terbiasa memakan makanan ‘asli’  bergizi lengkap lebih penting daripada sekedar meningkatkan berat badannya.

Terlalu banyak makanan di bumi ini untuk dijelajahi. Beribu resep sudah tercipta untuk mengolah bahan makanan tersebut. Mari bereksplorasi, berpetualang dalam menyajikan makanan yang terbaik untuk anak kita. Jangan cepat putus harapan dan beralih ke produk instan yang hanya  menghilangkan sakit kepala kita dalam mengatasi masalah makan  anak.

Berat badan anak saya ketika bayi -batita tidak pernah berada lebih dari rata-rata berat bayi pada umumnya, namun saat ini alhamdulilah dia tumbuh juga, membesar juga, makan banyak juga, kuat juga, dan pintar juga. Dan saya tidak menggantungkan diri kepada produk-produk ajaib itu (pernah sebentar, lalu berhenti – lihat ini).

Tidak sampai berperut buncit sih… (siapa juga yang perlu perut buncit)

Cukuplah…

Seperti kata dokternya ketika masih di Amrik:

Selama berat badan anaknya meningkat…. It’s OK!

Mengapa memasak untuk bayi?

Berbagai alasan saya pakai ketika anak saya bayi dan saya memasak hampir semua makanan yang dia makan.

1. Terjamin halal (dulu saya di Amrik ketika anak saya bayi)

2. Irit

3. Bebas pengawet

4. Jelas bahan bakunya, jelas kandungan gizinya

5. Mudah, ternyata tidak sesulit yang pernah dibayangkan (lebih sulit menyiapkan makanan untuk bapaknya😀 ). Silakan membaca https://ndew.wordpress.com/2007/03/13/membuat-makanan-bayi-sendiri/

Namun dengan hanya berbekal 5 poin di atas, tanpa disangka didapat bonus juga. Hingga kini anak saya (5 thn) tidak hobi jajan, tidak hobi memakan makanan ringan kemasan, dan sangat cepat menyatukan selera makan dengan kami orangtuanya.

Usia 10 bulan sudah memakan nasi (digecek-gecek) memakai sup sayur (sayurnya dipotong kecil-kecil sekali), tanpa diblender. Sekarang sudah bisa makan hampir semua makanan saya, kecuali makanan yang terlalu pedas (sedikit pedas, alhamdulillah sudah bisa).

Jika ada cookies, wafer, atau keripik dan cemilan kemasan lainnya yang penuh pengawet, gula, dan msg di rumah kami, lebih sering benda-benda itu berakhir di tempat sampah dibandingkan di perut anak saya.

Juga dengan cemilan-cemilan bukan kemasan lainnya seperti gorengan, jajajan pasar, atau kue-kue, alhamdulillah beliau tidak begitu tertarik. Lebih senang mengemil buah-buahan segar.

Diluar perkiraan, ternyata jerih payah  dahulu memasak untuk bayi saya memberikan hasil yang lebih dari sekedar pengiritan.

Jadi, mengapa tidak memasak untuk bayi?