serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk Juni, 2006

Stroller

Bahasa Indonesianya apa ya? ‘Stroler’ kah? Kereta dorong anak sepertinya.
Alat transportasi bayi dan anak ini agaknya semakin populer dipakai di Indonesia. Walaupun trotoir tempat pejalan kaki belum nyaman untuk dipakai berjalan-jalan dengan stroler, paling tidak dia cukup berjasa untuk dipakai di dalam mall yang semakin lama semakin menjamur.

Dari hasil browsing di beberapa toko, berikut umumnya mereka mengkategorikan stroler.

Stroler sendiri ini secara bentuk terbagi-bagi lagi menjadi:
1. Stroler biasa
Yang ini adalah stroller yang umumnya kita lihat sehari-hari, beroda empat paling tidak.

2. Stroler untuk berlari (jogging stroller)

Stroler ini cocok untuk para ibu-ibu yang rajin lari pagi keliling kompleks perumahan. Biasanya memiliki roda lebih besar tiga buah dan direkomendasikan untuk bayi yg telah berusia tiga bulan*.

3. Carriage
Stroler jenis ini pada dasarnya hanya berupa rangka beroda, tanpa kursi. Rangka ini dapat ditempel kursi atau tempat tidur kecil bayi (bassinet) atau carseat, tentunya yang sesuai dengan desain rangkanya.

Dilihat dari ukurannya, umumnya stroler terbagi atas:
1. Stroler payung (umbrella stroller)
Ini adalah jenis stroler paling ringan, paling berat kira-kira 7 kg. Bisa dilipat menjadi sangat kecil seperti payung (cara melipatnya). Dipakai untuk anak-anak yang sudah bisa duduk sendiri (kira-kira 7 bulan), karena stroler ini umumnya tidak memiliki alas duduk yang empuk dan kokoh. Tidak memiliki keranjang barang yang besar. Stroler payung sangat nyaman dipakai untuk jalan-jalan yang perlu sering membuka dan menutup serta mengangkut-angkut stroler, seperti naik turun kendaraan umum.

2. Stroler ringan (lightweight stroller)
Stroler ini memiliki berat diatas stroler payung. Bisa disangkutkan carseat keranjang. Umumnya kursinya bisa direbahkan, walau tidak bisa sampai betul-betul rata (umumnya tidak dianjurkan untuk bayi baru lahir, kecuali disimpan dulu di carseat keranjang). Ada yang bisa dilipat seperti payung, ada juga yang dilipat seperti buku. Memiliki keranjang barang yang cukup memadai. Kadang memiliki meja kecil untuk menyimpan makanan atau minuman anak. Nyaman untuk dibawa jalan-jalan keliling kota atau mall yang tanpa harus rajin membuka menutupnya.

3. Stroler besar (fullsize stroller)
Segalanya serba besar. Ukuran strolernya, beratnya, ukuran keranjang barangnya. Nyaman untuk mendorong-dorongnya, namun tidak nyaman untuk mengangkut dan menyimpannya.

Dilihat dari cara melipatnya, stroler terbagi atas:
1. Stroler payung
Dilipat seperti payung. Dari bentuk kursi yang lebar, menjadi kira-kira berbentuk batang.

2. Stroler buku
Seperti buku, yang ketika ditutup memiliki lebar yang sama, namun lebih ringkas dan mudah dibawa-bawa.

Dilihat dari jumlah kursinya, stroler terbagi atas:
1. Stroler solo (single stroller)
Seperti namanya, kursinya hanya ada satu buah.

2. Stroler duet (double stroller) dan seterusnya.
Jumlah kursinya mengikuti namanya.
Ada yang kursinya disandingkan bersebelahan, ada juga yang dijajarkan ke belakang (tandem).
Jumlah kursi stroler terbanyak yang pernah saya lihat ada empat buah dijajarkan ke belakang. (gak kebayang… ngurus bayi-bayi sebanyak itu dalam waktu yang bersamaan….)

Berdasarkan pengalaman, yang perlu diperhatikan dalam membeli stroler adalah
1. Jumlah uang yang ada
2. Ukuran tempat menyimpan di rumah dan di kendaraan
3. Pemakaian utama stroler
4. Jangan terlalu mahal
Anak 0-1 tahun sangat cepat tumbuhnya, saran saya jangan membeli stroler untuk bayi yang terlalu mahal karena hanya sebentar terpakainya, kecuali stroler payung yang bisa dipakai lebih lama. Bukan karena anaknya sudah terlalu besar, namun karena terlalu berat angkut-angkutnya sementara anak juga sudah cukup nyaman di stroler payung.
5. Tali pengikat ke tangan
Saya lebih suka stroler juga yang memiliki tali pengikat ke tangan, selain tali pengikat di pinggang. Lebih aman, kalau tiba-tiba ketemu jalan berlubang anaknya tidak akan terpelanting (jadi inget dulu pernah nyungsep naik becak, gara-gara jalan berlubang..hihihih). Juga kalau tiba-tiba anak menjadi rewel, badannya tetap akan menempel di stroler tidak akan keluar-keluar yang mungkin bisa kejeduk disana-sini.

Selamat belanja stroler

Car Seat

Seumur-umur kayaknya baru tahu ada benda yang namanya carseat (kursi mobil?hueheheheh apa ya bahasa Indonesianya) ketika sampai di Amerika.
Car seat ini adalah kursi yang didesain untuk dipakai anak-anak dan dipasang di mobil. Kegunaan car seat ini adalah agar anak-anak lebih aman dalam berkendaraan.

Sebenarnya saya lebih suka memangku anak di mobil kalau bepergian, apalagi kalau masih bayi. Sebab terlihat lebih nyaman untuk dia.
Namun dipikir-pikir lagi, kalau kita menyetir seorang diri, bayinya disimpan di mana? Tidak setiap waktu kita bepergian bisa ditemani orang lain, bukan?
Nah, di sini fungsi carseat sangat terasa.

Dari hasil melihat berbagai situs (terima kasih untuk internet), berikut kesimpulan saya.

Carseat terbagi menjadi tiga kategori yaitu, carseat bayi (infant carseat), carseat bisa dibulak-balik (convertible carseat), dan penyangga (booster).

1. Carseat bayi (infant carseat)

Bentuknya seperti keranjang.
Biasanya diperuntukan untuk bayi dari lahir hingga10 kg*.
Menghadap belakang.
PENTING setiap bayi dibawah 10 kg dan belum setahun usianya harus selalu me
nghadap belakang. Lebih aman untuk tulang-tulang yang belum kuat, terutama jika mobil harus mengerem mendadak.
Carseat model ini sepertinya sangat nyaman untuk para bayi, karena keranjangnya ini bisa dengan mudah dilepas dari alasnya dan dibawa-bawa ke mana-mana. Bayi bisa nyaman tidur di keranjangnya di manapun berada. Di mobil, di rumah, bahkan bisa dipasang juga di stroller.

Sedikit yang perlu diperhatikan sebelum membeli carseat jenis ini adalah kadang bayi sudah lebih berat dari 10 kg sebelum mencapai usia 1 tahun. Yang berarti dia belum boleh duduk menghadap depan, tetapi sudah terlalu kecil untuk duduk di carseat bayi. Sehingga bayi kemudian harus memakai convertible carseat, tidak bisa langsung memakai booster.

2. Carseat bulak-balik (convertible carseat)

Bentuknya seperti kursi pengemudi kendaraan, ada penyangga (sayap) di kiri-kanannya.
Kursi ini disebut bulak-balik karena memang bisa dipakai bulak-balik.
Menghadap belakang untuk bayi hingga 10 kg dan dibawah satu tahun*, da
n menghadap depan untuk anak diatas 10kg hingga 20 kg dan sudah satu tahun*.
Umum
nya lagi, carseat ini bisa direbahkan kursinya (recline) untuk dipakai bayi yang memang perlu lebih rebah.
Carseat j
enis ini memiliki keuntungan pemakaian yang lebih lama karena batas berat badan yang cukup luas dan bisa dipakai dari sejak bayi baru lahir.

3. Penyangga (booster)

Yang ini dipakai untuk anak yang lebih besar. Diperlukan karena umumnya anak belum cukup tinggi untuk memakai seatbelt. Tanpa booster, tali seatbelt akan jatuh di atas dada anak-mungkin di leher yang akan membahayakan untuk mereka. Biasanya diperuntukan untuk anak diatas 15 kg*.


Jika sebelumnya anak memakai carseat bayi yang berbentuk keranjang, bisa juga dilanjutkan den
gan carseat booster yang memiliki tambahan tali pengencang (tidak hanya mengandalkan seatbelt mobil). Carseat jenis ini juga memiliki umur pakai yang cukup panjang. Sejak 10 kg hingga cukup tinggi untuk memakai seatbelt tanpa bantuan penyangga.

Carseat mana yang bagus?
Semakin mudah pemakaian dan pemasangan carseat serta pas dipasang di kendaraan, semakin bagus carseat itu yang berarti semakin aman.
Consumer Search dan National Highway Traffic Safety Administration salah satu situs yang memberi rating untuk carseat.

*Lihat ketentuan produk

Air Susu Ibu 2

Seorang teman diberi cara lain dalam belajar memberi ASI anaknya.
Si anak meminum ASI hasil pompa melalui selang kecil yang ujungnya ditempelkan persis di puting ibunya. Jadi dia merasa meminum ASI dari ibunya langsung.
Lucu juga.

Air Susu Ibu

Sepertinya sejak jaman dahulu kala, jika saya berangan-angan mempunyai anak, saya bercita-cita untuk memberinya ASI. Lupa persisnya kenapa.
Alhamdulillah kesampaian juga.

Saya baru tahu kemudian, bahwa ada kasus-kasus gagal memberi ASI. Bukan ibunya tidak mau memberi, tapi tidak bisa. Kasihan sekali.

Saya tidak tahu bagaimana proses melahirkan di Indonesia, termasuk perawatan bayi hari-hari pertama ketika masih di tempat persalinan.
Berikut sedikit cerita tentang apa yang saya alami ketika saya melahirkan anak pertama saya di Amerika yang menurut saya sangat membantu keberhasilan saya menyusui ASI kepadanya.

Sejak umur kehamilan tujuh bulan kalau tidak salah, saya sudah diwanti-wanti oleh mamah untuk membersihkan puting, dengan cara diolesi baby oil dan kemudian dipijat seperti memeras kelapa (tapi jangan keras-keras). Katanya supaya terbuka lubang air susunya dan putingnya keluar (tidak ‘mendelep).

Sayangnya saya yang termasuk pemalas ini, sering lupa melakukan kewajibannya. Sehingga proses ini sepertinya tidak memberikan hasil yang maksimal.

Setelah membaca berbagai tulisan, akhirnya saya tahu bahwa ASI yang pertama kali muncul ketika bayi baru lahir sangatlah penting. Kolostrum namanya.
Menurut Wikipidea , kolostrum itu sangat kental, berwarna agak kekuningan, dan sangat lengket. Kadar lemak rendah, karbohidrat tinggi, protein tinggi, dan banyak antibodi. Penting untuk kesehatan bayi.
Sangat mudah dicerna, sehingga sangat cocok untuk makanan pertama bayi. Juga bersifat laksatif, sehingga memudahkan bayi untuk buang air besar, membuang bilirubin yang berlebih dan mencegah jaundice (bayi kuning).

Setelah melahirkan, bayi ternyata tidak pernah dibiarkan lepas dari pandangan ibunya. Selalu di ruangan yang sama, sejak di ruang bersalin sampai ke ruang rawat inap. Bayi selalu bisa didekap ibunya. Hal ini memberi kesempatan kepada saya untuk mencoba memberikan kolostrum yang berkhasiat itu.

Ternyata teori tak semudah prakteknya.

Saya dan bayi yang masih sama-sama amatiran (saya amatir jadi ibu, dia amatir jadi peminum susu) ini ternyata sama-sama harus saling belajar.
2 hari kita berjuang untuk keberhasilan ASI ini.

Karena sebelumnya saya bilang akan memberi ASI, suster sama sekali tidak mengeluarkan botol susu untuk memberi makan anak saya.
Yang dia berikan hanya mesin pemompa susu.

Jam-jam pertama, dicoba diberikan ASI langsung dari sumbernya, namun tidak berhasil. Salah satu penyebabnya adalah puting yang masih mendelep, jadi sulit untuk dicengkeram bibir bayi. Jadi sedikit menyesal kurang rajin memijit puting ketika masih hamil.

Kemudian suster menyarankan supaya ASI nya dipompa ke dalam cawan kecil, dari cawan ini kolostrum itu diberikan ke bayi seperti memberi minum ke kucing, dijilat-jilat oleh lidahnya.
Jadi tidak lewat botol susu. Hal ini untuk menghindari kebingungan puting, bayi hanya boleh tahu puting itu adalah yang punya ibunya bukan yang buatan pabrik.

Setiap 3 jam si anak harus diberi minum kata susternya.
Kalau malam-malam kita lagi terlelap, akan selalu datang suster yang membangunkan setiap 3 jam untuk mengingatkan kita menyusui anak.

Hari kedua, datang seorang ahli laktasi, mengajarkan caranya menyusui.
Karena belum bisa juga memakai puting ibunya, akhirnya dia ajarkan untuk dipancing memakai botol susu. Botol susu ini hanya dipakai untuk mengeluarkan sedikit air susu saja, sehingga bayi terpancing untuk membuka mulut lalu langsung dialihkan ke puting ibunya.

Sampai tiba saatnya pulang, proses menyusui masih juga belum berhasil.

Selama itu juga, jika tidak berhasil dipancing ke puting, si anak masih minum susu lewat cawan .
Hingga akhirnya pada hari ketiga atau keempat ya, Alhamdulillah berhasil juga.
Saya tidak tahu persis kenapa.
Tapi saya percaya tidak memberikan botol susu sama sekali itu termasuk yang membantu keberhasilan proses ini plus tentu saja doa dan kesabaran.

Links: FAQ menyusui

akhirnya

setelah lebih dari setahun dianggurin, semoga blog ini bisa terus terisi dan berguna. amin.