serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk Oktober, 2006

melipat seprai berkaret

Jaman dahulu kala, saya hanya tahu seprai itu kain berbentuk persegi panjang dijahit sepanjang pinggirannya. Kalau mau dipasang di kasur harus ditali pada sudut-sudutnya atau dilipat sedemikian rupa sehingga seprai tidak mudah bergeser di kasur.

Jaman sekarang, seprai ternyata sudah menjadi lebih canggih. Demi menghindari kesulitan tali temali bak pramuka, diciptakan seprai yang sudah diberi karet pada pojokannya.

Mudah memakainya, sulit melipatnya.

Menurut salah satu pembawa acara bersih-bersih rumah di TV, begini cara melipatnya.

1. Lipat kain pada titik ujung kasur, bukan titik ujung kain. Dalam sisi yang bersamaan seperti sisi kiri kasur atau sisi kanan kasur, satu sudut dilipat ke arah luar, sudut lain ke arah dalam (detail a, detail b).

2. Masukkan sudut yang dilipat ke arah keluar (a) ke sudut yang dilipat kearah dalam (b)

3. Kerjakan juga yang sisi lain.

4. Seprai akan berbentuk seperti persegi panjang. Lipat seperti biasa.

Selamat mencoba

Iklan

pecah jerawat (kastengels)

Setelah bertahun-tahun (hiperbola banget) memegang rekor tidak pernah membuat kue, akhirnya di tengah ramadhan tahun ini terpecahkan juga.

Demi memakan kue kastengel karya bibi (tante) yang super enak. Demi menghindari pengiriman kastengel dari Bandung yang akhirnya hancur (bubuk, remuk) ketika sampai disini.

Terpecahkan juga jerawat itu, membuat kue.

Karena sedikit rasa tahu diri yang tidak tahu apa-apa tentang membuat kue, saya meminta ibu ira (pengalaman membuat kue) dan ibu lintang (pengalaman memiliki ibu yang rajin bikin kue) untuk menemani saya membuat kue ini.

Sebagai pembuat kue super amatiran, berbagai kebodohan telah terjadi dalam proses pembelajaran ini.
1. Memesan keju wisjman ke teman yang rumahnya dekat dengan toko asia. Tentu tidak ada, karena yang dimaksud adalah mentega wisjman.
2. Dengan percaya diri tinggi, membeli keju cheddar yang sudah diparut. Tadinya untuk isi kue keju itu, ternyata harus keju jenis lain yang bentuknya seperti bola. Untung si keju cheddar masih bisa dipakai untuk taburan kue.
3. Karena tahunya memakai mentega wisjman, jadi saya mencari pengganti si mentega berkhasiat itu. Ditemukan mentega sejenis di toko lokal ‘european style salted sweet cream butter’ yang ternyata agak mahal, walau lebih murah dari si wisjman. Karena lagi resepnya ternyata tidak lengkap, belakangan baru diketahui bahwasanya si butter ini hanya dipakai sedikit, bukan untuk semua resep. Hallah rugi banget.. harusnya cukup memakai mentega yang lebih murah, jadi terlalu mahal karena memakai butter.

Hasilnya?
Dengan sedikit kesalahan menghitung ukuran di sana sini (gak punya timbangan gitu loh, plus salah konversi hitungan dari metrik ke inggris), ternyata cukup memuaskan (muji diri gini..). Cukup mirip, sedikit kurang garam, dan banyak usahanya. πŸ˜€

Mau tahu resepnya?
Bahan :
1. 700 gram mentega kocok (600gr mentega, 100 gr butter)
2. 250 gram keju diparut (keju edam, kejunya orang walanda)
3. 4 butir telur ayam
4. 900 gram terigu
5. Garam secukupnya

Cara :
1. Telur dikocok hingga mengembang
2. Tambahkan mentega kocok
3. Terakhir masukkan terigu. Aduk ! Rasa, kurang asin? tambah garam
4. Diamkan adonan kurang lebih 20 menit
5. Buat adonan panjang bulat ukuran 3 x 1 x 1 cm
6. Taruh di loyang yang telah diolesi mentega
7. Adonan yang telah dibentuk diolesi merah telur
8. Bakar di oven yang telah dipanaskan
9. Jadi deh……

Tidak mau susah-susah bikin?
Silakan hubungi saya, nanti saya mintakan sang bibi tercinta untuk membuatkannya…
Ciye.. promosi…

mohon maaf lahir dan batin

PR

Dapet PR dari bu Ira
euleuh2.. tua2 dapet pr…

APAKAH KAMU :
1. Iri-hati pada orang laen :iyah, iri hati kalau orang lain tak perlu menyeterika dan mencuci botol susu.. curhat…
2. Kamu mengandalkan ‘beauty’ or ‘personality’ : gimana yah… dua-duanya ada sih… (huahahahahah)
3. Punya SIM? : surat ijin menikah? tentu ada… eh salah buku nikah itu mah ya
4. Takut kehilangan ‘uang’ atau ‘teman’?: tergantung konteks, kalau malam2 gelap2, takut hilang teman. kalau di restoran bon mau datang, takut hilang uang
5. Berkacamata? : alhamdulillah tidak
6. Suka anak kecil : huss.. ntar dikira phaedophilia pula

PERNAHKAH KAMU:
7. Berpikir tuk operasi plastik: di badan? gak pernah. di tong sampah? sering, operasi memakai ulang plastik sampah dari toko.
8. Memotong sendiri rambutmu? pernah, nekaaaad… (salon mahal sih)
9. Jatuh cinta pada pandangan pertama : tentunya
10. Berpikir untuk mengadopsi anak : anak ular? gak mau. sama ibunya aja takut.
11. Pacaran ama orang yg jauuuh lbh tua :mau tau.. ajjja
12. Cinta bertepuk sebelah tangan? : sama ken ichi di film voltus 5
13. Kehilangan dompet? : hm.. lupa

KUSUKA:
14. Nonton berita? : berita gosip? selalu
15. Pelajaran di sekolah : bukan IPS
16. Tipe cowok/ cewek : yang gak jaim
17. Menu sarapan : kalau dibikinin bubur ayam. kalau bikin sendiri roti isi meses
18. Orang yang sedang kusuka: dhika
19. Penampilan lawan jenis yg kamu sangat suka ngeliyatnya : bukan yang bau (eh itu mah bukan diliat ya?)
20. Band : dah lama gak denger lagu selain ‘libur tlah tiba’ (itu nama bandnya apa ya?)
21. Tempat: bandung dan restoran kalau dibayarin
22. Baca koran : yang bagian ada kupon
23. Resto fast food: yang buatan dalam negeri deh…
24. TV station: abc
25. Nama untuk anak laki : muhammad
26. Nama untuk anak perempuan : dewi

KESAN PERTAMA KALO DENGER :
27. Koper : jalan-jalan
28. Sekolah : bayarin dong
29. Sapi : mooo….
30. Rizky Hanggono : siapa tuh?

Jam karet

Kabarnya orang Indonesia identik dengan ini, jam karet. Bukan, bukan merk jam. Bukan pula material jam. Tahu sendiri kan apa.

Kalau datang ke suatu acara orang Indonesia, kemudian acaranya berlangsung terlambat, dengan bangga kita selalu mengatakan “kan orang Indonesia, jam karet dong!”

Bukan saya tidak pernah terlambat, bukan saya ‘on time freak‘. Saya juga masih belajar untuk tidak menjadi orang Indonesia yang bagian ngaret.

Kalau terlambat untuk masuk bioskop atau kelas di sekolah, ini agak-agak sering. Dipikir-pikir lagi, kalau terlambat yang seperti ini sepertinya hanya saya yang rugi (gak juga dong ndew, bapakmu rugi juga, dah bayarin sekolah…— ya.. gitu deh…).

Tapi kalau untuk kencan, yang tanpa diri saya maka kencannya akan gagal (huehehehe), saya akan serius mengusahakan untuk tidak datang terlambat. (gak juga ya, pak?–hueheheheh)

Atau kalau misalnya arisan (sayang di sini tidak ada arisan, jadi ini ceritanya berkhayal, seandainya saya ikut arisan– πŸ˜€ ) yang pesertanya lima orang; tiba-tiba, tanpa sengaja tiga orang terlambat masing-masing satu jam. Bukankah lebih baik waktu satu jam yang dipakai oleh dua orang yang datang pertama dipakai keliling-keliling pertokoan terlebih dahulu, daripada menunggu di restoran menghabiskan tiga gelas kapucino (secara boros gitu jadinya). Atau kalau kedua orang itu sepakat untuk main catur dulu, kan mending di rumah aja main caturnya tidak perlu di restoran (ceritanya kan arisannya mau di restoran di salah satu pertokoan terkemuka). Apapun itu bentuknya, mereka yang berdua mungkin bisa memikirkan kegiatan lain yang lebih diperlukan daripada sekedar menunggu tiga orang temannya yang tak kunjung datang.

Ceritanya adalah mencoba untuk menghargai waktu teman yang telah dijanjikan untuk dipakai oleh saya. Saya tahu beliau tidak hanya melulu mengurusi saya, tapi juga punya banyak urusan lain. Jadi, betapa kasihannya beliau jika harus menunggu saya walau hanya satu menit sementara beliau mungkin masih punya sejuta pekerjaan lainnya.
Saya tidak suka kalau harus menunggu orang lain; mengapa orang lain harus suka menunggu saya?

Seperti saya sebutkan di atas; bukan saya tidak pernah terlambat, bukan saya ‘on time freak‘. Saya juga masih belajar untuk tidak menjadi orang Indonesia yang bagian ngaret.
Kalau jam tidur siang saya bisa bertambah setengah jam sebagai pengganti menunggu teman, menyenangkan sekali bukan?

Seringkali kita mempertanyakan mengapa Indonesia tidak pernah maju. Mungkin salah satunya karena jam orang Indonesia masih salah. Jam baja atau jam besi mungkin harusnya, bukan jam karet.

Kita tidak pernah bilang orang Amerika atau orang Eropa yang disebut-sebut sebagai negara maju memakai jam karet bukan?

Yuk, kita mulai gerakan bebas jam karet di Indonesia, siapa tahu Indonesia jadi lebih maju.
Yah, paling tidak kita mulai belajar tidak merugikan waktu orang lain.

Seperti kata ustadz terkenal Aa Gym, 3M (Muhammad Mahardhika Maulana :D– bukan ding)
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari yang kecil
Mulai dari sekarang

Selamat tinggal mencuci botol susu

Setelah lewat usia satu tahun, dhika anakku dicoba diberi susu sapi murni sebagai tambahan dari ASI. Karena sebelumnya dia hampir tidak mengenal botol susu, jadi saya coba berikan susu lewat gelas anak (sippy cup). Namun tidak berhasil. Dhika mau minum air putih, jus, atau teh manis lewat gelas anak; tapi tidak susu. Sampai pada suatu hari dia menemukan botol susu dan terlihat tertarik memakainya. Langsung saya isi susu murni sapi dan dia mau meminumnya. Alhamdulillah.

Hingga usia hampir dua tahun, dhika minum tiga botol susu dalam seharinya. Pagi, sore, dan malam. Kadang dicampur Pediasure, demi menambah berat badannya yang menurut standar disini agak rendah.

Sampai pada suatu hari, kira-kira satu bulan sebelum ulangtahunnya yang kedua, saya merasa bosan dan lelah mencuci botol susu yang banyak pernak perniknya.

Saya coba untuk tidak memberikan susu di botol susu, melainkan di gelas. Satu hari, dua hari, dhika tidak mau minum susu sama sekali. Hal ini sudah diperkirakan oleh saya, tapi membuat suami saya sangat khawatir. Setelah bertanya ke sana sini, disimpulkan ternyata adalah wajar anak-anak minum susu lewat botol bahkan hingga mereka menginjak usia masuk SD.

Halah, mencuci botol susu sampai 4 tahun ke depan?? No way, Jose!
Tapi bagaimana lagi.. anaknya tidak mau minum susu.
Jadi, dengan target cukup sampai 2,5 tahun saja, saya teruskan dhika minum susu lewat botol susu.

Sampai tidak lama dari percobaan pertama itu, saya bertemu teman baru yang berprofesi sebagai babysitter. Paling senang bertemu teman babysitter, bisa banyak konsultasi. Beliau mendukung saya untuk melepas botol susu. Saya utarakan tentang dhika yang tidak mau minum susu sama sekali. Beliau meyakinkan saya bahwa dhika akan minum susu lagi, paling tidak dalam sebulan.

Setelah sepakat dengan suami, percobaan kedua dilaksanakan.

Kira-kira seminggu dhika tidak mau minum susu sama sekali. Namun setelah itu, Alhamdulillah dia mulai mau minum susu. Segelas dalam sehari, dua gelas, kadang-kadang tiga gelas juga. Ada kalanya dia tidak mau juga minum susu seharian, di saat lain bisa habis tiga gelas.

Berapapun itu, dia minum susu saja saya sudah senang, ditambah bonus ‘selamat tinggal mencuci botol susu’. (secara tanpa mencuci botol susu saja sudah banyak kerjaan–ciye.. sok sibuk betul!)

Mencuci gelas dengan noda membandel

Serasa iklan judulnya… hueheheheh

Pernah punya gelas yang berdaki?

Itu loh, umumnya kalau kita hobi minum teh, mungkin minum kopi juga, gelas kita jadi bernoda hitam atau coklat, jejak si teh atau si kopi.
Begitu juga dengan alat minum si anak, di sini disebutnya sippy cup (gak tahu persis bahasa Indonesianya apa), biasanya memiliki lekak lekuk yang sulit dijangkau ketika mencucinya.
Termasuk juga botol susu anak, kadang kalau sudah lama menjadi agak kehitaman atau ada noda susu yang tidak tercuci.

Dulu saya kira judulnya mencucinya kurang beres. Pernah dicoba digosok-gosok, hilang juga sih dakinya. Tapi tenaga yang terbuang untung menggosok juga lumayan.
Kalau si gelas anak, terlalu banyak sudut-sudut dan lubang-lubangnya. Memang susah aja judulnya. Juga botol susu.

Ternyata mudah saja membersihkannya. Cukup direndam sebentar di dalam larutan air dengan sedikit pemutih (yup, pemutih pakaian, bleach), bilas sebentar dengan air, cuci lagi seperti biasa menggunakan sabun. Hilang nodanya. Noda teh (kopi belum pernah coba), dan noda susu.

Amankah?

Setelah dibaca-baca, sabun mesin pencuci piring (dishwasher) itu isinya konsentrasi pemutih ternyata (bleach concentrate). Produsen botol susu bayi dan gelas anak tidak melarang untuk mencuci produknya di mesin itu. Saya masih ingat, salah satu petunjuk membersihkan gelas anak memang sekali-kali dicuci memakai pemutih. Sabun cuci piring pun sekarang ada yang dicampur dengan pemutih.
Jadi, kira-kira sih aman kayaknya.

Namun biar lebih yakin, baca-baca lagi ya…