serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Jam karet

Kabarnya orang Indonesia identik dengan ini, jam karet. Bukan, bukan merk jam. Bukan pula material jam. Tahu sendiri kan apa.

Kalau datang ke suatu acara orang Indonesia, kemudian acaranya berlangsung terlambat, dengan bangga kita selalu mengatakan “kan orang Indonesia, jam karet dong!”

Bukan saya tidak pernah terlambat, bukan saya ‘on time freak‘. Saya juga masih belajar untuk tidak menjadi orang Indonesia yang bagian ngaret.

Kalau terlambat untuk masuk bioskop atau kelas di sekolah, ini agak-agak sering. Dipikir-pikir lagi, kalau terlambat yang seperti ini sepertinya hanya saya yang rugi (gak juga dong ndew, bapakmu rugi juga, dah bayarin sekolah…— ya.. gitu deh…).

Tapi kalau untuk kencan, yang tanpa diri saya maka kencannya akan gagal (huehehehe), saya akan serius mengusahakan untuk tidak datang terlambat. (gak juga ya, pak?–hueheheheh)

Atau kalau misalnya arisan (sayang di sini tidak ada arisan, jadi ini ceritanya berkhayal, seandainya saya ikut arisan–😀 ) yang pesertanya lima orang; tiba-tiba, tanpa sengaja tiga orang terlambat masing-masing satu jam. Bukankah lebih baik waktu satu jam yang dipakai oleh dua orang yang datang pertama dipakai keliling-keliling pertokoan terlebih dahulu, daripada menunggu di restoran menghabiskan tiga gelas kapucino (secara boros gitu jadinya). Atau kalau kedua orang itu sepakat untuk main catur dulu, kan mending di rumah aja main caturnya tidak perlu di restoran (ceritanya kan arisannya mau di restoran di salah satu pertokoan terkemuka). Apapun itu bentuknya, mereka yang berdua mungkin bisa memikirkan kegiatan lain yang lebih diperlukan daripada sekedar menunggu tiga orang temannya yang tak kunjung datang.

Ceritanya adalah mencoba untuk menghargai waktu teman yang telah dijanjikan untuk dipakai oleh saya. Saya tahu beliau tidak hanya melulu mengurusi saya, tapi juga punya banyak urusan lain. Jadi, betapa kasihannya beliau jika harus menunggu saya walau hanya satu menit sementara beliau mungkin masih punya sejuta pekerjaan lainnya.
Saya tidak suka kalau harus menunggu orang lain; mengapa orang lain harus suka menunggu saya?

Seperti saya sebutkan di atas; bukan saya tidak pernah terlambat, bukan saya ‘on time freak‘. Saya juga masih belajar untuk tidak menjadi orang Indonesia yang bagian ngaret.
Kalau jam tidur siang saya bisa bertambah setengah jam sebagai pengganti menunggu teman, menyenangkan sekali bukan?

Seringkali kita mempertanyakan mengapa Indonesia tidak pernah maju. Mungkin salah satunya karena jam orang Indonesia masih salah. Jam baja atau jam besi mungkin harusnya, bukan jam karet.

Kita tidak pernah bilang orang Amerika atau orang Eropa yang disebut-sebut sebagai negara maju memakai jam karet bukan?

Yuk, kita mulai gerakan bebas jam karet di Indonesia, siapa tahu Indonesia jadi lebih maju.
Yah, paling tidak kita mulai belajar tidak merugikan waktu orang lain.

Seperti kata ustadz terkenal Aa Gym, 3M (Muhammad Mahardhika Maulana :D– bukan ding)
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari yang kecil
Mulai dari sekarang

2 Komentar»

  dydy wrote @

saya dulu selalu on-time…tapi berhubung 2 sobat saya jam karet, jadi suka ikut ngaret jadinya..
bad influence..XD

  dealer pulsa wrote @

hahahha korupsi waktu n korupsi uang orang ato negara adalah budaya yang wajib kita rubah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: