serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk November, 2006

Desaku

Untuk Bandung beserta segala isinya……

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat Ayah dan Bunda
Dan handai taulanku

Tak mudah ku lupakan
Tak mudah bercerai

Selalu kurindukan
Desaku yang permai

bebas popok

Diawali dari kebosanan membeli popok yang mahal itu. Didasari dengan usia Dhika yang sudah melewati dua tahun. Didukung terutama oleh ibunya Zaki yang Zakinya sudah bebas popok sejak umur 15 bulan (terima kasih bi Rita) dan beberapa ibu-ibu lain yang sudah mau memberi tips dan trik melepas popok. Akhirnya Dhika bisa bebas popok.

Dengan modal tekad bulat, karpet bau pesing, sofa penuh danau-danau buatan, setumpuk celana dalam mungil, dan perlak kiriman dari Indonesia. Usaha itu dimulai.

Sebelum usaha ini, sejak usia 15 bulan agaknya, Dhika sudah diperkenalkan dengan tata cara pipis. Ikut nimbrung bapaknya kalau sedang pipis.

Diawal usaha pelepasan popok, tiga atau empat hari Dhika selalu pipis di tempat selain kloset. Di sofa, di lantai berkarpet, di kursi makan, dan di kasurnya. Padahal selama tiga hari ini entah berapa kali sehari kami berdua berdingin-dingin ria di kamar mandi berharap membuahkan hasil… pipis.

Ternyata bagian tersulit adalah bukan mengetahui kapan sang anak akan pipis, melainkan mengajarkan anak bahwa pipis itu adalah menggerakan otot di kantung kemih.
Sepertinya itu Dhika sadari setelah dia mengetahui ada efek-efek basah. Di bajunya atau di tempat lain, plus diberitahu bahwasanya itu adalah pipis.

Ada seorang ibu memberitahu bahwa dia tidak percaya pada popok yang berbentuk celana. Akhirnya saya menangkap maksudnya. Apapun bentuknya, kalau anak dan saya tidak tahu itu adalah basah, percuma.
Dengan tidak memakai popok, akan selalu ketahuan kapan si anak itu pipis, dan mau tidak mau kita akan rajin mengganti celananya dengan yang kering sehingga si anak terbiasa dan menyenangi kondisi kering itu.

Entah mendapat ilham darimana, akhirnya setelah empat hari, setiap kali dibawa ke kamar mandi dan disuruh pipis, dia terlihat bisa menekan perut bawahnya, dan… pipislah.
Ajaib, dan alhamdulillah.
Lama-kelamaan akan ketahuan juga ciri-ciri si anak perlu membuang hajatnya.

Setelah pr dia terselesaikan (belajar menekan kantung kemih), pr saya yang bertambah. Rajin mencari wc, terutama kalau sedang diluar rumah. Setiap dia bangun tidur, sebisa mungkin langsung lari ke kamar mandi.

‘Kecelakaan’ tentunya masih sering terjadi, terutama kalau bangun tidur yang terkadang tidak ketahuan, tahu-tahu celananya sudah basah. Tapi ya, namanya juga belajar.

Sedang menanti dia belajar selalu bilang sebelum pipis. Sudah beberapa kali terjadi, tapi belum selalu.

Semoga semakin hari semakin pintar beliau. Amin

jomblo

Baru saja nonton filmnya. Basi banget ya. Ya maaf, baru (di)sempat(kan).hihihih

Aku suka, ceritanya lucu, mengingatkanku pada masa-masa lalu, para pemujaku dulu…huahahahahahahaa…
Aku suka, pemainnya berakting dengan sangat bagus.
Aku suka, settingnya bandung, kotaku yang kucinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku (nyanyi pake lagu ‘desaku’)… selalu kurindukan, kotaku yang permai.
Aku suka, settingnya kampusku, kampusku, rumahku, kampusku, negeriku… nyanyi terusss.

Aku tidak suka, terlalu mengumbar rokok.
Aku tidak suka, terlalu mengumbar bahasa kasar.
Aku tidak suka, adegan berdua-duaan di kamar kos.

Mungkin memang itu yang umumnya terjadi di beberapa kota, namun saya masih percaya masih banyak dibelahan Indonesia lain yang belum menganggap hal itu menjadi umum.
Dan saya percaya hal ini bisa dijadikan pembelajaran dan trend baru bagi teman-teman atau adik-adik kita yang masih menurut saya baik-baik itu.
Tidakkah ini membuat film itu menjadi agen penyebar kebiasaan baru yang menurut saya lebih buruk?

Sama halnya dengan para sinetron Indonesia yang ternyata banyak yang berefek buruk buat para penontonnya.
Saya pernah mendengar cerita ada seorang anak yang mengguyur pembantunya karena dia pernah melihat perbuatan yang sama di tivi.
Ini juga ada cerita, yang kalau menurut saya gara-gara salah didik dari tivi.

Yuk, bikin film yang bagus dan juga bisa memberi contoh yang baik buat masyarakat.
Siapa tahu, negara kita bisa jadi lebih baik.

Gambar: sampul DVD film jomblo diambil dari sini

baju olahraga

Tidak sengaja kemarin saya melihat acara pertandingan bola basket wanita antar kampus di TV. Kejuaraan nasional rasanya, salah satu kampus di Baltimore bertanding kala itu.

Yang menarik perhatian saya adalah baju yang mereka pakai.
Begitu… seksi?
Sama sekali tidak.

Mereka berpakaian seperti layaknya tim basket pria bermain. Gombrang (terlalu besar, longgar) , atas dan bawah. Atasan tangan pendek dan gombrang, bawahan celana selutut dan juga gombrang.

Sangat berbeda dengan beberapa olahraga lainnya yang membedakan antara pakaian wanita dengan pakaian pria. Pakaian pria hampir selalu lebih tertutup dan lebih longgar dibandingkan dengan pakaian wanita.

Contoh ekstrimnya mungkin pemain bola voli pantai. Para pemain pria bertelanjang dada, dan memakai celana pendek diatas lutut sedikit yang longgar. Sementara yang wanita memakai pakaian yang terlihat seperti pakaian dalam, super minim.

Tadinya saya pikir model pakaian yang dibedakan ini ada hubungannya dengan efektifitas berolahraga. Seperti para perenang yang memakai model dan bahan baju renang tertentu demi meningkatkan kecepatannya.

Melihat kasus si pemain basket wanita itu mengubah pikiran saya.
Ternyata mungkin itu hanya sekedar model pakaian.

tempat duduk

Kalau melihat film-film dari barat yang menceritakan acara makan formal entah di perkawinan, makan malam keluarga atau lainnya, suka terlihat mereka sudah mengatur tempat duduk para tamu. Siapa duduk di sebelah siapa pada meja yang mana.

Untuk orang Indonesia seperti kita mungkin terlihat sangat aneh dan kaku. Belum pernah mengalami sih, tapi kayaknya emang aneh dan kaku.

Beberapa ahli pesta (entertaining guru) menyarankan posisi duduk itu didasarkan atas karakter setiap tamu yang akan diundang demi menghasilkan acara makan formal yang menyenangkan. Sungguh sebuah kalimat yang aneh, sejak kapan formal itu bisa jadi senang..heheheh

Setelah dilihat-lihat lagi, mungkin saran posisi duduk itu bisa berlaku juga dalam pergaulan sehari-hari.

Pernah melihat atau merasakan dalam suatu acara berkumpul ada satu teman yang tidak terlihat nyaman berbincang-bincang dengan teman lainnya?
Jangan khawatir, belum tentu mereka bermasalah satu dengan lainnya.
Menurut saya yang menurut si teori posisi tempat duduk ini, bisa saja mereka memang tidak cocok secara karakter.

Begini katanya.

THE HOST, yang mempunyai acara. Duduklah dekat dapur, supaya mudah mondar mandir mengurus makanan. Tugas host juga untuk mengatasi tamu yang bermasalah. bagian ini saya belum tahu implementasi sehari-harinya apa.
Dekati: dapur, the introvert, the diva.
Hindari: co host

THE DIVA, dia selalu mempunyai cara agar setiap perbincangan menjadi cerita tentang dirinya (“kamu suka teh? saya juga suka”).Dekati: the introvert, the charmer
Hindari: the entertainer

THE GOSSIP FODDER, dia tidak bisa berhenti membicarakan keburukan orang lain. Hindari dia dari orang yang akan menilai dia buruk.
Dekati: the host, the charmer, the outsider
Hindari: the politico

THE INTROVERT, sangat pemalu.
Dekati: the host, the charmer, the gossip fodder
Hindari: the outsider, the politico

THE CHARMER, dia bisa menciptakan perbincangan yang sangat menyenangkan meskipun dengan sebuah patung.
Dekati: siapapun
Hindari: the host

THE POLITICO, senang membahas hal-hal yang kontroversial.
Dekati: the diva, the entertainer, the host
Hindari: the introvert, the gossip fodder

THE ENTERTAINER, dia selalu bisa menciptakan keramaian dan kegiatan.
Dekati: the gossip fodder, the introvert
Hindari: the diva, the host

THE OUTSIDER, orang baru yang biasanya tidak pernah bermain bersama
Dekati: the charmer, the host, teman yang membawanya
Hindari: the introvert

Termasuk karakter yang manakah Anda?
Sekarang sudah tahu kan, harus duduk dimana kalau ada acara arisan di restoran.(loh kok kembali ke sekedar tempat duduk)
Teori ini jangan dipakai untuk menentukan tempat duduk di kereta atau di bioskop ya, gak laku soalnya. 😀

bloglines

Sebagai orang baru di dunia per-blog-an, saya sangat beruntung sudah didaftarkan menjadi peserta bloglines oleh suami. Jadi jangan tanya bagaimana cara mendaftarkan dirinya karena saya tidak tahu, tapi sepertinya sama saja dengan mendaftarkan diri di dunia-dunia maya lainnya.

Apa itu bloglines?

Saya juga tidak terlalu tahu hihihihi…

Yang jelas salah satu fiturnya membantu saya mengikuti jejak tulisan teman-teman di blognya masing-masing tanpa harus masuk ke blog mereka satu-satu setiap hari yang mana sangat memakan waktu dan belum tentu setiap hari diperbarui (update).

Jadi begini ceritanya….

Si Bloglines memiliki table yang dapat kita isi sendiri dengan sejumlah blog atau situs favorit. Beliau akan meminta alamat blog dan website favorit kita, untuk dia serap datanya setiap kali kita login ke bloglines.

Hasil penyerapan datanya?
Beliau akan menandai situs mana-mana saja yang sudah diperbarui.
Tinggal diklik situs yang ditandai itu, akan muncul berita barunya di halaman yang sama.

Pingin masuk ke situs si empunya berita?
Klik saja lagi judul situs, kita akan langsung dihantarkan ke situs yang penuh gambar nan indah dan memberatkan untuk dibuka itu.

Begicu…

Sepertinya bloglines ini memiliki beberapa fitur lainnya.
Saya juga belum dan belum berniat mengutak atik.
Silakan mencoba-coba sendiri.
Laporkan hasil percobannya ya….

Selain bloglines, pasti ada juga produk-produk lain yang serupa. Entah ceritanya bagaimana. Kalau ada yang mau cerita-cerita juga boleh….

wajan berkarat

Wajan terbesar saya yang cukup untuk memasak 5 piring nasi goreng saya beli di toko Vietnam di Philadelphia. Bentuknya hampir sama dengan wajan-wajan di Indonesia, hanya saja alasnya rata karena saya memakai kompor bertenaga listrik yg bentuk pemanasnya seperti kumparan obat nyamuk bakar. Wajan ini sangat tipis dan ringan, tidak seperti wajan-wajan di Indonesia yang rasanya lebih tebal dan lebih berat.

Sengaja membeli yang berwarna abu, sesuai warna logamnya dengan pemikiran kalau membeli yang berwarna hitam, tapi bukan teflon, maka kira-kira dicat, sehingga kira-kira lagi suatu saat catnya akan berlepasan.

Ternyata oh ternyata, bukan catnya berlepasan, karena memang tidak dicat; melainkan berkarat.
Sungguh wajan terburuk yang pernah saya lihat.
Setelah sekali pakai, dicuci, tidak lama akan berubah warnanya menjadi kuning.

Setelah mencari-cari di sana sini (internet), ditemukan cara mencuci dan menyimpannya yang sudah lolos tes di dapur saya.

Agar tidak perlu membuang tenaga menggosok sang karat, gosok wajan yang sudah dibersihkan dengan sabun menggunakan air cuka atau air jeruk nipis.
Karat akan lebih mudah hilang, tangan tidak letih.
Bilas dengan air.
Bisa dicuci lagi dengan sabun.
Lap hingga kering secepatnya.
Langsung diolesi dengan sedikit minyak, bisa menggunakan minyak goreng yang masih baru.
Simpan.
Kira-kira karat tidak akan muncul lagi sampai pemakaian dan pencucian berikutnya.

Dipikir-pikir ini masih ada hubungannya dengan reaksi-reaksi kimia yang jaman dahulu kala sempat ngelotok di kepala.
Hayoo… siapa yang masih ingat hayo….