serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

pisah ranjang

bukan, bukan sama suami.
tapi sama anak tercinta.

sebenarnya sudah sangat lama kami pisah ranjang.
seperti orang pacaran saja, putus dan bersambung berkali-kali.
sampai akhirnya pada usia kira-kira 14 bulan diputuskan kami harus pisah ranjang.
tempat tidur berukuran ratu (queen) yang ternyata 10 cm lebih sempit dari tempat tidur ukuran ratu versi indonesia ini sudah tidak mampu menampung satu pemuda berukuran sangat panjang ditambah satu pemudi berukuran relatif pendek plus satu anak kecil yang kalau tidur seperti kincir angin berputar-putar.

dibelikanlah dhika sebuah tempat tidur berbentuk mobil dengan harapan dia bisa langsung jatuh hati tidur disana.

pada mulanya tempat tidur itu kami simpan persis disamping tempat tidur kami, selain memang hanya memiliki satu kamar apartemen juga dengan harapan tidak terlalu mengejutkan buat dhika.
karena pada masa itu dia masih minum ASI, jadi biasanya saya tidur di tempat tidurnya sambil dia minum ASi hingga terlelap kemudian saya pindah ke tempat tidur saya.
setelah dhika tidak minum ASi, saya masih menemaninya tidur di tempat tidurnya.
kemudian dhika tidur hanya memegang tangan saya, sementara saya tidur di kasur saya.
lama-kelamaan dicoba dipindahkan tempat tidurnya, tidak disamping tempat tidur saya, melainkan di atas kepala, sehingga kami tidak bisa tidur berdampingan lagi.

enam minggu setelah kami pindah ke apartemen dengan dua kamar, dhika dicoba untuk tidur dikamarnya sendiri.
mulanya saya menemaninya tidur di bawah tempat tidurnya. yup, di lantai, untung berkarpet.
kemudian saya menemani tidur sambil melakukan shalat di kamarnya.
lalu saya coba bilang ke dhika bahwa saya akan shalat di kamar saya.

sekarang, belum selesai saya selesai membacakan doa sebelum tidur, dhika sudah ‘mengusir’ saya dari kamarnya. bu, shalat bu, katanya.

sedikit menyedihkan. namun senang juga melihat dia berani tidur sendiri. mengingat saya masih ditemani tidur sampai entah SD kelas berapa.

dipikir-pikir tulisan teh boring pisan… (setelah dipikirkan lagi, ternyata tulisan ini sangat membosankan). biarin ah…

3 Komentar»

  imgar wrote @

eits..dhika jagoan ya..!! 😀

  dydy wrote @

kita aga-aga gagal dengan cribnya gara-gara ortunya gemes pengen tidur bareng aliefya…:D

habisnya kadang2 udah aftermidnight udah selesai disusuin eh masih juga bangun sementara ibunya udah nguantuk banget. ya udah taro kasur kita heheheh…*alasan.com*

tapi kadang2 masih ditidurin di crib juga kok..heheh..
dasar ini ortunya yang teu baleg ngajarin anak tidur sendiri..;P

  Bunda Ira: Bundanya Nanet & Nadya wrote @

hebuat dika dah bisa bobo cendili.. memang sedih kalo anak jadi mandiri dan ‘gak’ butuh kita lagi.. tapi,proses gitu harus dijabani sebelum nanti berpisah selama2nya..(duuh..merinding..)
btw, tulisan2nya gak boring..asik2 ajah kok..–>


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: