serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

bebas popok

Diawali dari kebosanan membeli popok yang mahal itu. Didasari dengan usia Dhika yang sudah melewati dua tahun. Didukung terutama oleh ibunya Zaki yang Zakinya sudah bebas popok sejak umur 15 bulan (terima kasih bi Rita) dan beberapa ibu-ibu lain yang sudah mau memberi tips dan trik melepas popok. Akhirnya Dhika bisa bebas popok.

Dengan modal tekad bulat, karpet bau pesing, sofa penuh danau-danau buatan, setumpuk celana dalam mungil, dan perlak kiriman dari Indonesia. Usaha itu dimulai.

Sebelum usaha ini, sejak usia 15 bulan agaknya, Dhika sudah diperkenalkan dengan tata cara pipis. Ikut nimbrung bapaknya kalau sedang pipis.

Diawal usaha pelepasan popok, tiga atau empat hari Dhika selalu pipis di tempat selain kloset. Di sofa, di lantai berkarpet, di kursi makan, dan di kasurnya. Padahal selama tiga hari ini entah berapa kali sehari kami berdua berdingin-dingin ria di kamar mandi berharap membuahkan hasil… pipis.

Ternyata bagian tersulit adalah bukan mengetahui kapan sang anak akan pipis, melainkan mengajarkan anak bahwa pipis itu adalah menggerakan otot di kantung kemih.
Sepertinya itu Dhika sadari setelah dia mengetahui ada efek-efek basah. Di bajunya atau di tempat lain, plus diberitahu bahwasanya itu adalah pipis.

Ada seorang ibu memberitahu bahwa dia tidak percaya pada popok yang berbentuk celana. Akhirnya saya menangkap maksudnya. Apapun bentuknya, kalau anak dan saya tidak tahu itu adalah basah, percuma.
Dengan tidak memakai popok, akan selalu ketahuan kapan si anak itu pipis, dan mau tidak mau kita akan rajin mengganti celananya dengan yang kering sehingga si anak terbiasa dan menyenangi kondisi kering itu.

Entah mendapat ilham darimana, akhirnya setelah empat hari, setiap kali dibawa ke kamar mandi dan disuruh pipis, dia terlihat bisa menekan perut bawahnya, dan… pipislah.
Ajaib, dan alhamdulillah.
Lama-kelamaan akan ketahuan juga ciri-ciri si anak perlu membuang hajatnya.

Setelah pr dia terselesaikan (belajar menekan kantung kemih), pr saya yang bertambah. Rajin mencari wc, terutama kalau sedang diluar rumah. Setiap dia bangun tidur, sebisa mungkin langsung lari ke kamar mandi.

‘Kecelakaan’ tentunya masih sering terjadi, terutama kalau bangun tidur yang terkadang tidak ketahuan, tahu-tahu celananya sudah basah. Tapi ya, namanya juga belajar.

Sedang menanti dia belajar selalu bilang sebelum pipis. Sudah beberapa kali terjadi, tapi belum selalu.

Semoga semakin hari semakin pintar beliau. Amin

Iklan

3 Komentar»

  cjusman wrote @

Good job Dhika 🙂 Ikut seneng ngedengernya drpd bangkrut beli popok mulu. For my boys, sampai bosen mula2 tiap jam aku ajakin ke kamar mandi.lama2 selang bbrp jam…alhamdullilah berhasil juga!

  ndew wrote @

makasih tante dinda…..

  aLia wrote @

wah.. canggih.. anakku tdnya mo disuruh pelan2 transformasinya pake toilet training daiper dulu, eh susahnya minta ampun pas dipakein cd. sptnya harus langsung di’ceburkan’ berbasah2 ria (duh ngebayanginnya aja udah males). tp apa boleh buat.. thanks infonya ya Ndew 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: