serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk September, 2008

Sekolah negeri di Amerika

Anak saya baru saja masuk Pre-K (pre kindergarten) di sekolah negeri Amerika, sekelas dengan TK nol kecil.

Sekolah negeri (public school) di Amerika ini gratis. Penentuan siapa masuk sekolah yang mana berdasarkan lokasi tempat tinggal. Semakin bagus daerah tempat tinggal anda yang umumnya berarti semakin mahal juga, semakin bagus sekolah negeri di daerah itu.

Sudah agak lama agak tahu kalau sekolah di daerah kota (city) itu tidak sebagus kalau di daerah pinggiran kota (county). Namun karena alasan mobilitas (di county tidak ada transportasi umum), kami memilih tinggal di daerah kota. Maka dicarilah apartemen di daerah yang sekolahnya lumayan bagus untuk ukuran kota, namun masih mudah mencapai transportasi umum.

Masuklah anak saya ke sekolah 10 terbaik dari 160 sekolah di Baltimore City.

Jadwal sekolahnya pukul 7.45 – 14.25. Panjang sekali untuk ukuran anak 4 tahun menurut saya. Ini merupakan kebijakan Baltimore City sekolah full day mulai dari Pre K, untuk mengakomodir orangtua yang bekerja.

Kelasnya terlihat sangat menyenangkan. Ada beberapa ‘stasiun’ tempat bermain. Di satu pojok merupakan daerah ‘housekeeping’, terdapat alat-alat memasak lengkap dengan mainan kompor, kulkas, dan meja makan. Di pojok lain ada ‘library’, terdapat lemari buku cerita anak. Ada juga pojok ‘alphabet’, segala alat bermain yang berhubungan dengan huruf terdapat disini. 5 buah meja bundar dengan masing-masing dikelilingi oleh 4 bangku kecil, tempat duduk masing-masing anak. Tergelar juga selembar karpet besar untuk kegiatan ‘circle time’ yang umumnya berisi pembacaan buku atau bernyanyi. Karpet ini juga dipakai sebagai alas tidur ketika anak-anak memakai waktu ‘nap time’ (tidur siang).

Sampai sini ceritanya masih indah.

Saya baru terkaget-kaget ketika hari pertama di minggu kedua anak saya sekolah beliau membawa oleh-oleh. ‘Homework’ (PR), Bu!

Yaiks! Kecil-kecil di kasih PR?

Ok, yuk kita kerjakan.

Lagi-lagi.. Yaiks!

Menulis huruf A?!?!?! Membuat lingkaran di kertas kosong (bukan menjiplak)?!?!?!? Menulis nama sendiri?!?!!?! Serius 3 lembar PRnya.

Ya ampun.. saya kira PRnya mewarnai.

Apadaya, walaupun anak saya belum bisa memegang pensil dengan benar dikerjakan juga sang PR.

Dalam pikiran saya kalau PRnya seminggu tiga kali mungkin masuk akal juga.

Ternyata, keesokan harinya ada PR juga. Juga hari berikutnya. Dan berikutnya. Dari 5 hari sekolah, hanya hari Jumat beliau tidak diberi PR.

Sudahlah seharian (hampir 8 jam) disekolah masih membawa PR juga. Kapan mainnya? Kapan istirahatnya?

Jangan heran kalau orang Amerika tulisannya jelek-jelek. Belum belajar membuat ‘rumput’ dan ‘per’, sudah harus bisa menulis alfabet.

Karena saya pemercaya anak umur 4 tahun tidak perlu terlalu serius belajar. Saya cukup kecewa dengan sekolah negeri Amerika.

Kalau mau mendapatkan kurikulum yang banyak bermain, mungkin harusnya masuk ke sekolah swasta. Namun yang namanya sekolah swasta di Amerika terhitungnya mahal juga. Berkisaran $2.000/tahun – $15.000/tahun untuk Pre-K.

Jauh-jauh ke negara¬† ‘super power’ Amerika, masak sekolah tetap harus masuk swasta.

Bagaimana dengan sekolah anak Anda?

Ketika diatas 30 tahun

(Berikut adalah tulisan seorang teman, kebetulan kami tinggal satu kota di US. Untuk Cynthia terima kasih ijin menempelkan tulisannya di blog ini)

2 tahun yang lalu seorang teman pernah bilang:

Kalau orang belum berusia 30 tahun nggak Marxist, berarti dia gak punya hati.
Tapi kalo orang sudah diatas 30 tahun masih Marxist, berarti dia gak punya otak.

Waktu itu saya cuma tertawa dan manggut manggut sambil bicara dalam hati,
“aahhh biarin, khan semua dikembalikan ke masing2, lagian realistis juga sih apa yang dia bilang, mau diakui atau tidak semua orang akan bilang “khan guwe butuh duit juga, khan kesejahteraan gak dijamin negara dan kudu dicari sendiri, whatsoever”.

Tapi hari ini mungkin semuanya harus diredefinisi ulang, karena hari ini satu gambaran “gagalnya’ kehidupan terlihat nyata dibelakang apartemenku. Seperti biasa, gedung apartemenku jadi saksi bisu dua kehidupan yang berbeda yang hanya dipisahkan oleh satu blok bangunan (alias cuma beda 1 row jalan); dimana didepan jalan terlihat kehidupan yang penuh “kesejahteraan dan kemapanan” tapi dibelakang jalan jadi ruang kehidupan yang penuh “kematian dan keputusasaan”

.

Di jalan depan manusia berpesta ria tiap weekend, jalan berpindah dan memilih makanan dari bar yang satu ke bar yang lain, pindah dari satu live music ke live music yang lain; tapi di jalan belakang manusia-manusia lain menenteng tas-tas mereka yang berisi pakaian seadanya berpindah dari public library ke trotoar jalan ketika jam buka library sudah habis, terus menempat di pojok-pojok gang sambil menggelar kertas koran dan bersiap merebahkan badan di pojok-pojok itu.

Di jalan belakang itu manusia-manusia itu berbicara tidak dengan orang lain, tidak juga berbicara diantara mereka, melainkan benar-benar berbicara dengan diri mereka sendiri seolah2 mereka berbicara dengan orang lain. kadang mereka marah-marah, kadang tiba-tiba mereka tertawa sendiri, kadang-kadang mereka juga mendadak diam seolah-olah berdoa. Tidak ada ekspresi dari mata mereka, tidak ada pancaran harapan dari mata mereka, tidak ada juga satu titikpun sinar kehidupan disitu.

Di jalan belakang itu, ketika jam menunjukkan waktunya trash bin apartemen dikeluarkan menunggu jemputan, mereka berlari berlomba-lomba mengais sampah, bukan untuk mencari barang untuk dikumpulkan dan dijual atau digunakan; melainkan mencari Makanan dan Minuman untuk dimakan dan dikumpulkan. tak peduli busukkah makanan itu atau enakkah makanan itu, rasa dan ekspektasi sudah tidak ada lagi. hanya naluri biologis untuk mengisi perutlah yang bicara.

Di jalan belakang itu, saya bertanya, inikah yang katanya kesejahteraan? Inikah yang dinamakan ” the American Dream, land of hope ?”. Dan saya bertanya lagi; inikah keberhasilan kapitalisme yang mengangkat manusia yang tinggi semakin tinggi? Inikah janji-janji liberalisme yang menawarkan eksplorasi seluas-luasnya terhadap segala kemampuan pribadi manusia? dan manusia lain terlupakanlah.

Terus dimanakah nilai2 kemanusiaan diletakkan? apakah sudah terkubur di lapisan terbawah tumpukan sampah itu dan masih harus digali lagi? Apakah terkubur jauh dibawah tumpukan semangat egosentris yang membumbung karena keberhasilan individu masing2? Ataukah tertutupi dalam-dalam oleh tumpukan uang yang diatasnya tertulis “In God we trust ?”

Jika di tanah airku jutaan pengamat sosial politik ekonomi, humanitarian workers berteriak, “indonesia sampah, tidak ada kesejahteraan, kemiskinan semakin menghujam, masyarakat miskin semakin miskin karena menderita, tidak mampu sekolah, tidak mempunyai kebahagiaan sedikitpun, pemulung dan anak-anak jalanan di kolong-kolong flyover tak punya lagi masa depan dan secuil titik cerah”
Mungkin sepulang nanti akan kubisikkan ke mereka, berbahagialah saudaraku, karena selalu saja masih kulihat setitik senyuman di sudut bibirmu, karena masih bisa kulihat setitik refleksi cahaya memancar dari matamu, masih ada satu dua uluran tangan yang mencoba menarikmu untuk pelan dan pelan dan pelan mencari harapan akan masa depan.

Dan mungkin akan kubisikkan ke mereka juga, “disana, in the land of hope, dinegara yang paling adidaya, masih ada saudara-saudara lain yang bahkan kesulitan menemukan diri mereka apakah mereka masih merasa hidup”

dan untuk temanku yang dua tahun lalu berkata padaku itu, mungkin akan kubilang ke dia ” sekalipun sudah diatas 30, saya memilih untuk tetap Marxist karena saya masih punya otak tapi saya tidak mau kehilangan hati”.

selamat menunaikan ibadah puasa untuk teman-teman yang menunaikan, semoga di bulan puasa ini hati nurani dan kemanusiaan kita semakin dibukakan buat mereka-mereka yang membutuhkan uluran tangan kita akan kehidupan yang lebih manusiawi.

cynthiaratih|susilo
15 Charles Plaza #2808
Baltimore, MD 21201