serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk Desember, 2008

Membuat Kompos di Rumah

Terdapat berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat bantu untuk membuat kompos.
Sepertinya salah satu cara yang paling sederhana dan tidak memerlukan modal adalah membuat kompos dengan bantuan cacing tanah. Hasil pembuatan kompos dengan bantuan cacing ini biasa juga disebut vermikompos.  Vermikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karena itu vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Bagaimana bisa tanpa modal?

Bahan utama pembuatan vermikompos adalah cacing tanah dan bahan-bahan organik untuk makanan sang cacing.
Cacing tanah, kira-kira di setiap tanah terbuka, halaman rumah, atau kebun memiliki cacing tanah.
Bahan organik, gunakan bahan organik dari sampah rumah tangga anda (silakan baca tulisan Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga).

Apakah bau atau menjijikan?

Selain geli melihat sang cacing, pembuatan vermikompos ini jauh dari jijik dan bau. Karena setiap proses pengomposan yang berhasil memang tidak akan berbau, lain halnya jika terjadi pembusukan.

Caranya
Untuk yang mempunyai halaman
Gunakan ember atau tong sampah atau keranjang cucian yang berlubang berukuran agak besar, beri lubang bagian bawahnya atau bisa juga hanya digundukkan di halaman.
1. Siapkan cacing beserta sedikit tanah untuk tempat tinggal cacing sementara kompos belum jadi pada bagian bawah wadah yang dipakai.
2. Masukan sampah rumah tangga atau bahan organik lainnya ke dalam wadah bercacing. Setiap kali akan menambah bahan organik, ada baiknya isi wadah diaduk terlebih dahulu.
3. Vermikompos telah siap pakai apabila dengan warna hitam kecoklatan hingga hitam, tidak berbau, bertekstur remah.
4. Cara memanen vermikompos adalah dengan menumpahkan isi wadah di bawah sinar matahari. Cacing tanah akan bersembunyi ke dalam hasil kompos karena menghindari cahaya, sementara bagian atasnya merupakan kompos yang siap digunakan.
Sisakan cacing dan sedikit hasil kompos untuk membuat kompos yang berikutnya.

Untuk yang tidak mempunyai halaman
Jangan bersedih hati atau beralasan tidak bisa memanfaatkan sampah organik rumah tangga karena tidak memiliki halaman.
Karena ternyata bisa juga membuat kompos di dalam ruangan.

1. Siapkan rak vermikompos yang bisa dibeli di toko pertanian, atau buatlah rak susun dari kayu/ rak plastik seperti filling kabinet (minta bantuan tukang furniture, buat yang cantik), raknya model vertikal pindah dari atas ke bawah dengan 4 laci, tinggi antar laci kira 15 – 30 cm. Tiga diantara laci tersebut diberi lubang agar cacing bisa leluasa naik turun. Biasanya cacing akan naik dari rak paling bawah. (cara ini memungkinkan kita tidak bersentuhan dengan cacing)
2. Siapkan media kehidupan bagi cacing (seperti rumah yang nyaman) selain itu media ini juga sebagai pakan awalnya. Bisa menggunakan tanah tempat tinggal sang cacing. Cacing dan media awal disimpan di laci paling bawah (tanpa lubang dibagian bawahnya) setinggi 2/3 laci.
3. Lokasinya harus mudah diawasi dan tidak terkena matahari/hujan secara langsung
4. Masukan sampah organik yang diproduksi setiap hari di atas media awal. (B. C. D laci berlubang) nantinya cacing dengan sendirinya akan merayap ke atas, jika sudah melahap habis media awal.
7. lakukan perguliran media secara rutin jika media paling bawah (A) sudah habis dan tinggal butiran hitam yang berupa kokon (telur cacing) keluarkan dan balik di terik matahari, cacing muda akan berkumpul di bawah menghindari cahaya. Anda tinggal panen kascing dari atas.
8. Isi media dengan sampah, masukkan cacing muda ke media (laci B, C, D) yang sudah jadi , begitu seterusnya
9. Laci B, C, D ini berisi sampah organik dari dapur anda, pastikan tidak mengandung lemak, atau pisahkan yang berlemak masukkan ke dalam lubang biopori.
10. Satu laci bisa memuat sampah setara 40 kg yang mampu dilahap cacing selama 30 hari, sehingga sampah di rak atas atau bawahnya sudah siap menjadi media baru cacing.
11. Musuh cacing pasti ada yaitu semut dan tikus, kecoa pastikan mereka tidak mendekat dengan cara menggarisi rak dengan kapur anti semut/kecoa. Untuk tikus asalkan sampah tidak tercecer dan rak tertutup rapat maka tikus tidak akan menyantroni rak anda
Sumber:

Ritapunto, SEI – Bekasi, Oktober 2008, wikimu.com
IPPTP Mataram , kascing.com

Iklan

Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga

c_recycle_bin_ikea
Pernah melihat gunungan sampah di TPA (tempat pembuangan sampah akhir)?

Semakin hari semakin tinggi gunungan sampah di TPA. Di kota Bandung sempat menjadi masalah besar sendiri ketika TPA lama sudah penuh dan belum ada lahan pengganti untuk TPA baru. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA katanya berasal dari sampah rumah tangga. Iya, sampah rumah kita semua.

Daripada menggerutu dan menanti-nantikan aksi dari pemerintah, kita bisa melakukan usaha kecil-kecilan di rumah sendiri untuk mengurangi masalah sampah ini.

Anda tentu pernah tahu ada beberapa saudara kita yang bekerja sebagai pemulung dari tempat-tempat sampah.Atau tukang loak yang bisa membeli segala ‘sampah’ dirumah anda umumnya dengan menimbang berat barang yang anda kumpulkan.

Apa yang mereka pulung?
Apapun yang mereka bisa jual kembali baik secara langsung atau tidak langsung kepada para usahawan pendaur ulang.
Plastik, bekas gelas/botol minum plastik, botol kaca, kertas, dus, atau apapun yang bisa didaur ulang alias bisa dimanfaatkan kembali.

Semakin bersih benda-benda di atas, semakin baik dan semakin mudah untuk didaur ulang. Kalau sampah yang bisa didaur ulang ini sudah tercampur dengan sampah basah di rumah anda, lebih susah memilahnya dan memanfaatkannya.

Apa yang dimaksud dengan sampah basah?
Segala sampah yang bisa membusuk. Sisa potongan sayur untuk memasak, daging, makanan sisa, daun-daun yang berguguran, potongan rumput, dsb.

Jadi bagaimana caranya memilah sampah?
Idealnya di rumah anda disediakan tiga buah tempat sampah;
1. untuk sampah basah atau kadang disebut sampah organik
2. untuk sampah plastik, kaleng, dan kaca
3. untuk sampah kertas

Sampah plastik, kaleng, kaca, dan kertas bisa anda kumpulkan dan jual ke tukang loak atau dibuang juga ke tempat pembuangan sampah dan kira-kira cukup membantu para pemulung untuk mendapatkan barang yang agak bersih.

Idealnya sih mungkin TPA pemerintah juga terdiri dari tiga kategori pembagian sampah ini,  tapi.. mungkin pemerintah menunggu percontohan dari para warganya dulu 😀

Bagaimana dengan sampah basahnya?
Bisa anda buang juga, namun lebih baik dimanfaatkan lagi sendiri. Saat ini saya sedang mencoba memanfaatkan sampah basah saya untuk membuat kompos (pupuk alami) yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Bagaimana caranya? Semoga bisa bersambung ditulisan berikutnya.

Apa kabar Indonesia?

Tentu tidak sebersih dan seteratur Amerika, itu sudah saya perkirakan.

Harga sayuran sangat murah dibandingkan di Baltimore. 1 ikat kangkung hanya seribu rupiah, bandingkan dengan harga yang hampir $2.00 per ponnya di Amerika sana.
Harga daging dan ayam agaknya hampir sama dengan di US.
Harga ikan.. belum terlalu jelas, diduga agak lebih murah.

Kota Bandung semakin padat, sepertinya tidak boleh ada sepenggal tanah pun yang tidak dijadikan tempat tinggal atau tempat usaha. Beberapa lahan yang 3 tahun lalu seperti tak bertuan sekarang sudah berubah menjadi kios usaha.

Soal makanan, jangan ditanya. Sejauh ini Bandung masih surganya dari kelas pinggir jalan sampai kafe. Hanya sayangnya saya belum berani mencoba makanan yang terlalu aneh-aneh dan terlalu di pinggir jalan. Tunggu perut dan badan adaptasi dulu daripada harus menjadi sahabat kamar mandi.

Angkutan kota? Biayanya masih sama dengan setahun yang lalu. Kira-kira Rp 1.500 –  Rp 2.000 sekali jalan. Masih belum teratur dan masih rajin ‘ngetem’.

Jalan Dago? (penggal jalan Riau hingga pasar Simpang) Wuih! Gila! Super mengejutkan! Benar-benar menjadi pusat kegiatan ekonomi. Dari hotel bintang 4 atau 5 itu ya, Factory Outlet, restoran, kantor, sampai bengkel dan dealer mobil bahkan tempat pengisian bensin besar ada disini.

Satu hal yang membuat saya sangat terkejut.
Polusi. Iya, polusi udara.
Sangat berubah warna udara di kota tercintaku ini dibandingkan dengan 3 tahun atau bahkan tahun lalu. Di mana-mana sudah bukan tak berwarna atau coklat lagi, melainkan kebiru-biruan. Sangat jelas itu diakibatkan dari gas buangan kendaraan bermotor yang jelas juga terlihat sangat banyak populasinya.
Pernah saya tanyakan ke Bapak saya, “Memangnya tidak ada uji emisi ya?”
“Yah, beginilah negara kalau belum makmur, belum memikirkan hal-hal yang seperti itu.”, katanya.

Untungnya kalau malam masih dingin, kalau ke rumah nenek masih selalu tersedia makanan di meja makannya dan disambut dengan hangat, kalau berjalan masih perlu lirik kiri kanan karena mungkin berpapasan dengan teman atau ada orang yang ingin berbagi senyumnya dengan saya.
Priceless.