serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk Januari, 2011

Mengatasi anak/bayi bangun di tengah malam

Anak/bayi bangun di tengah malam memang akan menguras tenaga orangtuanya karena harus melayaninya.
Namun sampai kapan bayi terbangun di tengah malam karena benar-benar memerlukan bangun (lapar), bukan sekedar memerlukan perhatian?

Saya lupa kapan persisnya anak saya bisa tidur tanpa terbangun di tengah malam karena lapar. Mungkin sekitar 1 tahun.
Pada usia demikian kalau anak bangun tengah malam, belum tentu dia kelaparan. Jika yakin anak sudah kenyang makan dan minum susu, seharusnya dia tidak lagi kelaparan karena lambungnya sudah cukup besar menampung makanan yang cukup sampai pagi. Sama seperti kita yang tidak lapar ketika tidur lelap di malam hari.

Seringkali anak umur segitu terbangun karena terbiasa terbangun dan dilayani (digendong atau diberi susu) – semacam mencari perhatian.
Sudah saatnya pada usia lewat dari 1 tahun dibiasakan kalau malam itu tidak perlu terbangun lagi.

Caranya adalah dengan tidak memberikan apa yang dia minta. Tidak digendong, tidak diajak bermain/berbicara, atau tidak diberi susu.
Cukup ditepuk-tepuk/dibelai sedikit dengan kondisi kamar tetap gelap, sambil dibisikkan “tidur lagi ya, masih malam”.
Kalau memang tampak haus, cukup berikan air putih-jangan susu, apalagi susu di botol.
Bisa jadi anak akan merengek (namanya juga usaha-kata sang anak). Tahan saja, nanti juga dia tertidur lagi

Lama kelamaan sang anak akan ‘kapok’ karena merasa percuma bangun, tidak diberi apa-apa. Akhirnya dia akan terbiasa tidur sepanjang malam.

Seperti pada umumnya berurusan dengan memberikan kebiasaan baru kepada anak, tidak bisa dijamin memberikan hasil dengan cepat. Paling tidak 3 malam kebiasaan itu mungkin masih berulang, bahkan mungkin juga ada yang sampai 1 minggu atau lebih.

Namun demi kepuasan tidur yang panjang dimasa depan sang orangtua… layak diusahakan, bukan?

Update:

Saya baru saja selesai mengembalikan anak 18 bulan tidur di tempat tidurnya sendiri (sebelumnya tidur bersama saya). Berdasarkan pengalaman saya sepertinya lebih mudah prosesnya pada abangnya yang pada waktu itu dipisahkan ketika usia 12 bulan.

Anak kedua ini terus menangis sebelum tidur selama 2 minggu, tapi tetap saya biarkan. Setiap kali dia bangun dari tempat tidurnya saya kembalikan dia ke posisi tidur sambil dibisiki ‘tidur sendiri ya.. tidak apa-apa…ibu ada di sebelah’. Lampu kamar sudah mati tentunya.. terus berulang-ulang. Seingat saya pada malam pertama anak saya menangis dan bulak balik bangun selama 30 menit. Malam kedua 15 menit, malam berikutnya hanya syarat saja untuk nangis. Selama sebulan lebih masih suka nangis-nangis…tapi tidak apa-apa…

Tengah malamnya pada awal-awal tentu masih terbangun dan merengek mjnta tidur bareng lagi. Tapi hanya saya beri asi sebentar lalu dikembalikan tidur di kasurnya melalui proses nangis lagi tentunya. Setelah beberapa hari, kalau dia bangun hanya saya beri air putih. Setelah beberapa lama akhirnya dia tidur sepanjang malam juga..dari jam 7.30 an atau jam 8.00 malam hingga pukul 4.00… baru setelah itu saya beri asi dan pindah ke tempat tidur saya..

Lumayan kan…

Iklan

Menciptakan anak suka makan sayur

Mengajarkan anak belajar makan sayur itu bukan pekerjaan mudah mengingat rasa sayur yang lebih tidak enak daripada rasa makanan lainnya (buah atau daging/ikan/ayam).

Saya memulainya ketika anak saya mulai makan untuk pertama kalinya pada usia 4 bulan. Dibiasakan makan sayur terlebih dahulu sebelum makan buah dan daging/ikan/ayam.
Dengan demikian dia terbiasa dengan rasa-rasa sayur tersebut.
Alhamdulillah sekarang (6thn), anak saya mau memakan sayur apapun (kecuali pare kali ya…-belum mau karena terlalu pahit)

Kalau sekarang (keburu besar anaknya) masih belum mau makan sayur, mungkin bisa dicoba membuat sayur tampak lebih menyenangkan untuk dimakan. Atau mengajak anak untuk terlibat memasak si sayur tersebut sehingga menarik sang anak untuk memakannya juga.

Rebus wortel mungkin bisa dijadikan awal yang baik, mengingat rasa wortel juga relatif manis juga mudah dikunyah (seratnya tidak terlalu alot) dibandingkan sayur lain.Bisa dilanjutkan ke sayur-sayur lain yang rasanya juga masih sekitaran manis (jagung, labu, buncis) . Kalau sudah terbiasa, baru mulai pindah ke sayur yang kurang manis rasanya (brokoli, daun singkong, bokcoy).

Jangan lupa, orangtuanya juga harus memberi contoh makan sayur yang banyak dan tampak senang mengkonsumsinya.