serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Jalan-jalan ke Jepang

Berawal dari cita-cita mulia ingin mengunjungi Seoul namun belum kesampaian saja. Sebagai pecinta Kdrama, sering melihat kota Seoul (di layar kaca) dengan segala keindahannya. Seoul masuk ke  cita-cita terdekat untuk dikunjungi. Sayangnya Pak G belum berminat ke Seoul, dan exit permit pergi sendiri gak keluar-keluar. Akhirnya diputuskan bila ada rejeki main ke Jepang ramai-ramai saja.

 

Tiket..

Iseng-iseng menelusuri beberapa website penerbangan, diputuskan harga tiket ke Jepang ketika GATF cukup menarik. GATF di Bandung dipilih menjadi tempat berburu. Dekat dan tidak pakai mengantri mengular.

Setelah dilirak-lirik dan wawancara beberapa narasumber secara singkat, diputuskan untuk kali pertama ini cocoknya mengunjungi kota Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Cocoknya sekitar 8-10 hari, apadaya tiket murah di GATF hanya memperbolehkan 7 hari tinggal di Jepang. Rupanya Osaka dan Kyoto adalah 2 kota berdekatan yang berjarak sekitar 1.000 km dari Tokyo, sehingga tiket yang dipilih adalah berangkat tiba di Tokyo, pulang dari Osaka.

PR berikutnya menentukan kegiatan selama 7 hari. Peserta jalan-jalan adalah kami sekeluarga (bapak, ibu, remaja SMP, dan anak SD kelas 1) plus kakek dan nenek. Semua punya ketertarikan berbeda. 😀

Akhirnya ditentukan 5 hari di Tokyo, 1 hari di Osaka, dan 1 hari di Kyoto. Belum tahu mau  ke mana saja persisnya, yang penting bisa jadi dasar untuk mencari penginapan.

 

Penginapan.. 

Sudah sejak tinggal di Amrik, kalau jalan-jalan begini (di negara maju, minim makanan halal) kami menginap di rumah teman, saudara :D, atau di rumah orang lain melalui airbnb.com atau sejenisnya.

Mengapa tidak ke hotel?

  1. Sarapan yang biasanya disediakan hotel banyakan yang tidak halalnya, rugi kalau hanya bisa makan buah dan salad saja. 😀
  2. Fasilitas hotel yang masuk ke biaya penginapan, seringkali tidak sempat dinikmati karena sibuk jalan-jalan, kecuali memang sengaja niat ingin menikmati hotelnya – ini mah di Bandung ajalah.

Mengapa memilih rumah orang lain?

  1. Umumnya lebih murah daripada hotel.. hehehe
  2. Ada mesin cuci baju dan tempat jemur/dryer (bisa irit bawa baju, koper relatif lebih kosong, belanjaan bisa lebih banyak.. hehehe)
  3. Ada dapur (bisa masak terutama sarapan, atau perbekalan untuk makan siang)
  4. Bisa berkumpul di satu tempat, tidak terpisah-pisah. Terutama kalau jalan-jalan beramai-ramai.
  5. Menikmati tempat tinggal dan lingkungan (neighborhood) ala penduduk setempat. Bagaimana mereka bergerak, belanja, sekolah, bermain dan lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadilah.. 4 malam di Tokyo, dan 2 malam di Osaka. Kyoto hanya kurang dari 1 jam naik kereta dari Osaka, jadi ketika ke Kyoto tetap menginap di Osaka.

 

Ke mana saja??

Tokyo

Di Tokyo agendanya keliling kota, Disneyland, melihat Gundam 1:1 di Odaiba. Sederhana.

Masalahnya yang namanya keliling kota di Jepang itu seru bangeeeeeeeeet.

Banyak kawasan menarik. Tidak perlu pakai tiket, muter-muter keliling kota sudah sangat menghibur. 5 hari hanya jalan-jalan saja tidak cukup melingkupi semua keriaan kota Tokyo, belum lagi kalau pakai ingin masuk museum ini, taman itu, kuil anu, pasar itu, bangunan karya arsitek A, B.

Hmmm.. pikir-pikir kalau bisa ngulang.. maunya sekolah di Jepang.. hanya demi ingin jalan-jalan.. hehehe.

Jadi di Tokyo ke: Shinjuku, Harajuku, Omotesando, Shibuya, Disneyland, Odaiba sarangnya Gundam, Tsukiji Market, Ameya Yokocho, Ueno Park, Ginza, Tokyo Metropolitan Building, Asakusa (Senso Ji Temple), naik  boat keren dari Asakusa ke Odaiba.

Ingin tapi gak sempat: taman-taman, Akihabara, museum-museum-tadinya mau ke Miraikan, masjid, kampus.

 

Osaka..

Sadar hanya punya 1/2 hari di Osaka, tidak punya agenda ambisius. Tadinya kalau sampai Osaka agak pagi, mau mampir ke Kids Plaza – kebetulan sangat dengan stasiun menuju pengingapan untuk menghibur anak yang kecil dan ke Osaka Castle. Namun karena gak yakin bisa bangun pagi serta menghindari rush hour di kereta di Tokyo, akhirnya tiba di Osaka sudah jam 2 siang.

Gusur koper ke penginapan lalu istirahat sebentar, sudah mulai gelap.  Kids Plaza gagal, Osaka Castle sudah tutup.

Akhirnya main ke Shinsaibashi, Dotonburi dan Namba. Kawasan kota yang sangat hidup di malam hari.

 

Kyoto…

Mengunjungi 3 tempat yang selalu direkomendasikan. Hutan bambu Arashiyama, kawasan kota tua Gion, dan kuil gerbang merah Fushimi Inari Taisha.

Kyoto dan Osaka juga memiliki buanyak museum yang menarik, apadaya waktu hanya ada segitu-gitunya… tidak sempat mampir ke satupun museum.

 

Moda transportasi…

Umumnya kita mengandalkan kereta dan bis. Muacem-muacem operator, jalur, dan bentuk kereta serta bis. Cukup pakai googlemaps, cari direction, pilih yang gambar kereta, keluar semua pilihan moda transportasi dari suatu tempat ke tempat lain yang dituju lengkap dengan biayanya.

Bis dipakai untuk transportasi dari penginapan ke stasiun terdekat. Bisa saja jalan kaki dari stasiun ke penginapan. Hanya 10 menit kata yang punya rumah di airbnb dan itu berarti 1 km!!! 7 hari.. disuruh jalan tambahan 2 km dari dan ke stasiun.. gemporr.

Tiket bus harga tetap sekitar 220 yen, tiket kereta bergantung jarak tapi dengan jarak sama lebih murah daripada naik bus. Jadi kalau bisa, cari penginapan yang tidak perlu naik bus lagi. Semakin dekat dengan stasiun kereta semakin baik.

Naik taksi untuk jarak dekat dengan 4 penumpang, tidak terlalu berbeda dengan naik kendaraan umum. Pernah pulang kemaleman, bis sudah tidak ada, jalan kaki kejauhan, kaki sudah tak bertenaga, mata sudah keleyep-keleyep.. ya sudahlah yaaa.

Kereta sampai jam 1 malam masih ada, bus sebelum jam 12 malam sudah tidak ada.

Untuk memudahkan transaksi tiket kereta dan bis, kami memakai kartu e-money PASMO  (bila beli di area Tokyo) yang bisa dipakai di semua kereta dan bis di Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Bisa dibeli di airport di Tokyo dan diisi ulang di semua stasiun kereta.

Apabila membeli kartu e-money dari area lain, namanya berbeda dan jangkauannya berbeda juga. Silakan dicek kartu e-moneynya berlaku di mana saja. Misal di Osaka nama kartunya ICOCA, kurang paham jangkauannya sampai mana.

Pindah dari Tokyo ke Osaka yang berjarak 1000km menggunakan kereta cepat Shinkansen.. kapan laaaagi. Sepanjang Pulau Jawa hanya ditempuh dalam 3 jam. Tiketnya mahal, sekitar 1,8 jt satu kali jalan.

Sebetulnya ada tiket terusan namanya JR Pass dari perusahaan Japan Railway, yang mengoperasikan Shinkansen. Sekitar 3,3 juta berlaku 1 minggu gitu ya sepuasnya memakai kereta dan bis yang dioperasikan perusahaan JR  (ada juga jalur kereta dan bis yang tidak dilayani JR Pass) di seluruh Jepang, dalam dan luar kota. JR Pass ini hanya bisa dibeli dari luar Jepang sepertinya lewat agen travel atau online (belum pernah mencoba).

Namun karena kemarin kereta mahalnya hanya dipakai 1 kali saja dari Tokyo ke Osaka, setelah dihitung-hitung (pakai googlemaps atau hyperdia.com) untuk kami tetap lebih ekonomis tidak memakai tiket terusan ini.

Untuk perjalanan ini kami menghabiskan sekitar 9.000 yen di PASMO, dan 14.450 yen untuk Shinkansen atau sekitar 2,8 juta rupiah (kurs 120).

Jika isi PASMO masih ada sisa, jangan khawatir.. belanjakan saja di bandara hingga tidak bersisa. PASMO bisa dipakai belanja di vending machine, minimarket, dan tempat lain yang ada stiker PASMO nya.

 

Makanan halal…

Makanan halal hampir di tiap spot wisata ada. Tinggal download apps Halal Gourmet Japan (lainnya juga ada), sangat membantu.

Yang kemarin kami selalu hindari adalah ramen di tempat yang tidak halal karena umumnya memakai kuah babi, daging ayam dan daging sapi karena tidak disembelih dengan cara halal kecuali dari tempat halal. Cemilan, kue, dan roti-rotian juga dihindari.. daripada buang waktu baca bahan-bahan dari tulisan kanji.

Cukup banyak artikel yang membahas makanan halal di Jepang, silakan ditelusuri.

Harusnya makan pagi bisa masak di penginapan.. apadaya ketika di Tokyo lupa mencari penginapan yang menyediakan rice cooker (disana listriknya 110 watt, repot kalau bawa-bawa dari sini). Jadilah onigiri hasil belanja di minimarket malam sebelumnya serta mie instan, abon, dan makanan keringan bawa dari Indonesia (mie instan di sana umumnya tidak halal) menjadi penyelamat raga.

Bila kepepet kelaparan di tempat yang tidak ada makanan halalnya, cukup mampir ke minimarket biasanya jual nasi matang (saja), telur rebus (saja), dendeng ikan-ikan (saja), salad, buah.  Dicampur-campur kenyang juga, enak jugalah.

 

Kurang Yen??

Karena banyak juga tempat jajanan yang hanya terima uang tunai, maka uang yen harus selalu tersedia di dompet.

Jika kekurangan Yen di sana, cukup cari ATM Seven Eleven Bank biasanya terdapat di minimarket seven eleven yang dapat dijumpai di banyak tempat. Pakai kartu ATM bank Indonesia, tarik saja uang yen dari ATM tersebut (adalah pilihan menu berbahasa Indonesia). Sekali tarik maksimal 30.000 yen dengan biaya  penarikanRp 25.000 saja. Kurs yang dipakai adalah kurs pada saat itu di bank kita.

 

Koneksi Internet

Benda sangat penting yang perlu dipunya selain paspor dan uang. Hehehe. Berhubung ternyata orang Jepang jarang banget yang bisa bahasa Inggris, internet dengan telepon pintar menjadi sumber utama tempat bertanya.

Kemarin kami mencari penginapan yang juga menyediakan pocket wifi (rupanyaaa… bentuknya..dipinjamkan handphone lengkap dengan paket data di dalamnya). Berhubung kami berenam dengan ketertarikan berbeda sehingga beresiko berpencar, beberapa handphone juga memiliki paket data sendiri memakai paket roamingnya provider Indonesia dan Singapura (kebetulan punya dengan harga paket lebih murah daripada provider Indonesia).

Di bandara di Jepang juga kalau tidak salah ada penyewaan pocket wifi (silakan googling).

 

Yang paling disuka..

WC sebagian besar pakai penyemprot air, dikasih bunyi-bunyian penenang jiwa, dan pengering (bukan pengering tangan atau rambut yaaa). Menyenangkan.

Penduduk setempat sangat ramah dan senang membantu meskipun mereka sangat jarang yang bisa berbahasa Inggris, apalagi Indonesia. 😀 Pernah minta ditunjukin arah jalan, eh.. malah diantar sampai tujuan. Jadi (gak) enak.. 😀

Surga belanja.. sungguh tidak disangka.. buanyak buanget toko.. *makmakbahagiamodeon. Dari mulai toko butik super mahal, hingga kelas warung ada semua. Silakan pilih mau belanja dimana, sesuai dengan isi kantong.

 

Peringatan

Semua ini dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 8 km/hari. Meskipun demikian, pulang dari perjalanan ini berat badan naik 2 kg. 😛

Berhubung ke mana-mana mengandalkan transportasi umum demi penghematan, koper-koper pun wira-wiri naik bus dan kereta. Dengan demikian sangat disarankan untuk membawa koper seoptimal mungkin demi kemudahan menggusurnya. Koper besar dan medium lebih disarankan daripada koper kecil (sesuaikan dengan kapasitas bagasi di pesawat), sama saja bikin repot tangan tapi daya tampung lebih besar.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman 7 hari di Jepang dan beberapa waktu menelusuri internet termasuk youtube… Tentunya banyak berita yang mungkin sekali salah, mohon maaf. Selalu cek dan ricek lagi yaaa.

 

Kesimpulan

Jepang seru. Jalan-jalan sendiri tanpa agen travel sangat memungkinkan, harusnya lebih murah, dan lebih sesuai minat.

 

 

 

Iklan

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: