serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk rumah

Membuat Kompos di Rumah

Terdapat berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat bantu untuk membuat kompos.
Sepertinya salah satu cara yang paling sederhana dan tidak memerlukan modal adalah membuat kompos dengan bantuan cacing tanah. Hasil pembuatan kompos dengan bantuan cacing ini biasa juga disebut vermikompos.  Vermikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karena itu vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Bagaimana bisa tanpa modal?

Bahan utama pembuatan vermikompos adalah cacing tanah dan bahan-bahan organik untuk makanan sang cacing.
Cacing tanah, kira-kira di setiap tanah terbuka, halaman rumah, atau kebun memiliki cacing tanah.
Bahan organik, gunakan bahan organik dari sampah rumah tangga anda (silakan baca tulisan Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga).

Apakah bau atau menjijikan?

Selain geli melihat sang cacing, pembuatan vermikompos ini jauh dari jijik dan bau. Karena setiap proses pengomposan yang berhasil memang tidak akan berbau, lain halnya jika terjadi pembusukan.

Caranya
Untuk yang mempunyai halaman
Gunakan ember atau tong sampah atau keranjang cucian yang berlubang berukuran agak besar, beri lubang bagian bawahnya atau bisa juga hanya digundukkan di halaman.
1. Siapkan cacing beserta sedikit tanah untuk tempat tinggal cacing sementara kompos belum jadi pada bagian bawah wadah yang dipakai.
2. Masukan sampah rumah tangga atau bahan organik lainnya ke dalam wadah bercacing. Setiap kali akan menambah bahan organik, ada baiknya isi wadah diaduk terlebih dahulu.
3. Vermikompos telah siap pakai apabila dengan warna hitam kecoklatan hingga hitam, tidak berbau, bertekstur remah.
4. Cara memanen vermikompos adalah dengan menumpahkan isi wadah di bawah sinar matahari. Cacing tanah akan bersembunyi ke dalam hasil kompos karena menghindari cahaya, sementara bagian atasnya merupakan kompos yang siap digunakan.
Sisakan cacing dan sedikit hasil kompos untuk membuat kompos yang berikutnya.

Untuk yang tidak mempunyai halaman
Jangan bersedih hati atau beralasan tidak bisa memanfaatkan sampah organik rumah tangga karena tidak memiliki halaman.
Karena ternyata bisa juga membuat kompos di dalam ruangan.

1. Siapkan rak vermikompos yang bisa dibeli di toko pertanian, atau buatlah rak susun dari kayu/ rak plastik seperti filling kabinet (minta bantuan tukang furniture, buat yang cantik), raknya model vertikal pindah dari atas ke bawah dengan 4 laci, tinggi antar laci kira 15 – 30 cm. Tiga diantara laci tersebut diberi lubang agar cacing bisa leluasa naik turun. Biasanya cacing akan naik dari rak paling bawah. (cara ini memungkinkan kita tidak bersentuhan dengan cacing)
2. Siapkan media kehidupan bagi cacing (seperti rumah yang nyaman) selain itu media ini juga sebagai pakan awalnya. Bisa menggunakan tanah tempat tinggal sang cacing. Cacing dan media awal disimpan di laci paling bawah (tanpa lubang dibagian bawahnya) setinggi 2/3 laci.
3. Lokasinya harus mudah diawasi dan tidak terkena matahari/hujan secara langsung
4. Masukan sampah organik yang diproduksi setiap hari di atas media awal. (B. C. D laci berlubang) nantinya cacing dengan sendirinya akan merayap ke atas, jika sudah melahap habis media awal.
7. lakukan perguliran media secara rutin jika media paling bawah (A) sudah habis dan tinggal butiran hitam yang berupa kokon (telur cacing) keluarkan dan balik di terik matahari, cacing muda akan berkumpul di bawah menghindari cahaya. Anda tinggal panen kascing dari atas.
8. Isi media dengan sampah, masukkan cacing muda ke media (laci B, C, D) yang sudah jadi , begitu seterusnya
9. Laci B, C, D ini berisi sampah organik dari dapur anda, pastikan tidak mengandung lemak, atau pisahkan yang berlemak masukkan ke dalam lubang biopori.
10. Satu laci bisa memuat sampah setara 40 kg yang mampu dilahap cacing selama 30 hari, sehingga sampah di rak atas atau bawahnya sudah siap menjadi media baru cacing.
11. Musuh cacing pasti ada yaitu semut dan tikus, kecoa pastikan mereka tidak mendekat dengan cara menggarisi rak dengan kapur anti semut/kecoa. Untuk tikus asalkan sampah tidak tercecer dan rak tertutup rapat maka tikus tidak akan menyantroni rak anda
Sumber:

Ritapunto, SEI – Bekasi, Oktober 2008, wikimu.com
IPPTP Mataram , kascing.com

Iklan

Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga

c_recycle_bin_ikea
Pernah melihat gunungan sampah di TPA (tempat pembuangan sampah akhir)?

Semakin hari semakin tinggi gunungan sampah di TPA. Di kota Bandung sempat menjadi masalah besar sendiri ketika TPA lama sudah penuh dan belum ada lahan pengganti untuk TPA baru. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA katanya berasal dari sampah rumah tangga. Iya, sampah rumah kita semua.

Daripada menggerutu dan menanti-nantikan aksi dari pemerintah, kita bisa melakukan usaha kecil-kecilan di rumah sendiri untuk mengurangi masalah sampah ini.

Anda tentu pernah tahu ada beberapa saudara kita yang bekerja sebagai pemulung dari tempat-tempat sampah.Atau tukang loak yang bisa membeli segala ‘sampah’ dirumah anda umumnya dengan menimbang berat barang yang anda kumpulkan.

Apa yang mereka pulung?
Apapun yang mereka bisa jual kembali baik secara langsung atau tidak langsung kepada para usahawan pendaur ulang.
Plastik, bekas gelas/botol minum plastik, botol kaca, kertas, dus, atau apapun yang bisa didaur ulang alias bisa dimanfaatkan kembali.

Semakin bersih benda-benda di atas, semakin baik dan semakin mudah untuk didaur ulang. Kalau sampah yang bisa didaur ulang ini sudah tercampur dengan sampah basah di rumah anda, lebih susah memilahnya dan memanfaatkannya.

Apa yang dimaksud dengan sampah basah?
Segala sampah yang bisa membusuk. Sisa potongan sayur untuk memasak, daging, makanan sisa, daun-daun yang berguguran, potongan rumput, dsb.

Jadi bagaimana caranya memilah sampah?
Idealnya di rumah anda disediakan tiga buah tempat sampah;
1. untuk sampah basah atau kadang disebut sampah organik
2. untuk sampah plastik, kaleng, dan kaca
3. untuk sampah kertas

Sampah plastik, kaleng, kaca, dan kertas bisa anda kumpulkan dan jual ke tukang loak atau dibuang juga ke tempat pembuangan sampah dan kira-kira cukup membantu para pemulung untuk mendapatkan barang yang agak bersih.

Idealnya sih mungkin TPA pemerintah juga terdiri dari tiga kategori pembagian sampah ini,  tapi.. mungkin pemerintah menunggu percontohan dari para warganya dulu 😀

Bagaimana dengan sampah basahnya?
Bisa anda buang juga, namun lebih baik dimanfaatkan lagi sendiri. Saat ini saya sedang mencoba memanfaatkan sampah basah saya untuk membuat kompos (pupuk alami) yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Bagaimana caranya? Semoga bisa bersambung ditulisan berikutnya.

tirai kamar mandi

Biasanya dipakai di kamar mandi yang memakai bak berendam atau yang memiliki air pancuran.
Digantung seperti gordyn dari kira-kira sedikit di atas kepala hingga sedikit dibawah betis.
Fungsinya kira-kira agar air tidak menyiprat ke tempat-tempat yang tidak diinginkan, ke gantungan handuk misalnya.

Jaman dahulu saya hanya tahu tirai kamar mandi itu bahannya plastik yang agak tebal. Ada yang bermotif, ada juga yang polos.

Belakangan saya baru tahu bahwa tirai kamar mandi ini ada juga yang terbuat dari kain. Dari mulai kain yang keplastik-plastikan seperti polyester, sampai kain katun.

Ternyata dengan memakai kain ini didapatkan keuntungan utama dapat mudah dicuci. Sehingga begitu terlihat kotor atau berjamur tidak perlu susah digosok atau dibuang. Cukup dicuci seperti mencuci pakaian.

Jika memiliki tirai kamar mandi kain yang bagus, ada baiknya dilapis lagi tirai kain yang lebih murah pada sisi tempat mandi sehingga kain bagusnya tidak perlu rajin-rajin dicuci.

Karena bahannya adalah kain yang dengan mudah bisa kita beli di mana saja juga mudah untuk memodifikasinya, tanpa harus membeli di toko pun semua orang sepertinya bisa membuatnya sendiri. Selamat mencoba.

Gambar: Ty Pennington Style Fiesta Shower Curtain, 100% katun

wajan berkarat

Wajan terbesar saya yang cukup untuk memasak 5 piring nasi goreng saya beli di toko Vietnam di Philadelphia. Bentuknya hampir sama dengan wajan-wajan di Indonesia, hanya saja alasnya rata karena saya memakai kompor bertenaga listrik yg bentuk pemanasnya seperti kumparan obat nyamuk bakar. Wajan ini sangat tipis dan ringan, tidak seperti wajan-wajan di Indonesia yang rasanya lebih tebal dan lebih berat.

Sengaja membeli yang berwarna abu, sesuai warna logamnya dengan pemikiran kalau membeli yang berwarna hitam, tapi bukan teflon, maka kira-kira dicat, sehingga kira-kira lagi suatu saat catnya akan berlepasan.

Ternyata oh ternyata, bukan catnya berlepasan, karena memang tidak dicat; melainkan berkarat.
Sungguh wajan terburuk yang pernah saya lihat.
Setelah sekali pakai, dicuci, tidak lama akan berubah warnanya menjadi kuning.

Setelah mencari-cari di sana sini (internet), ditemukan cara mencuci dan menyimpannya yang sudah lolos tes di dapur saya.

Agar tidak perlu membuang tenaga menggosok sang karat, gosok wajan yang sudah dibersihkan dengan sabun menggunakan air cuka atau air jeruk nipis.
Karat akan lebih mudah hilang, tangan tidak letih.
Bilas dengan air.
Bisa dicuci lagi dengan sabun.
Lap hingga kering secepatnya.
Langsung diolesi dengan sedikit minyak, bisa menggunakan minyak goreng yang masih baru.
Simpan.
Kira-kira karat tidak akan muncul lagi sampai pemakaian dan pencucian berikutnya.

Dipikir-pikir ini masih ada hubungannya dengan reaksi-reaksi kimia yang jaman dahulu kala sempat ngelotok di kepala.
Hayoo… siapa yang masih ingat hayo….

seprai flannel

memasuki akhir musim gugur, pohon-pohon sudah setengah gundul, dedaunan berwarna merah pun sudah memenuhi tanah.

dingin.
yup, dingin.
diluar dingin, didalam rumah pun dingin.

heater sudah mulai bekerja, begitupula humidifier.

kok jadi puitis gini.

karena di apartemen yang sekarang kami tinggali harus membayar energi (listrik dan gas) sendiri (apartemen sebelumnya listrik termasuk dalam biaya sewa), pengiritan pemakaian energi perlu dilakukan di segala bidang.

salah satunya memakai seprai berbahan flannel.
yup, bahan baju itu, yang umumnya bermotif kotak-kotak, hangat dipakai, cocok untuk dipakai bergaul ke gunung.
ternyata di sini dipakai juga sebagai seprai, sehingga ketika naik ke tempat tidur tidak perlu menghabiskan panas badan yang semakin menipis ini untuk menghangatkan alas tidur kita.

lumayan.. mengirit satu atau dua derajat pemakaian heater di waktu malam.

melipat seprai berkaret

Jaman dahulu kala, saya hanya tahu seprai itu kain berbentuk persegi panjang dijahit sepanjang pinggirannya. Kalau mau dipasang di kasur harus ditali pada sudut-sudutnya atau dilipat sedemikian rupa sehingga seprai tidak mudah bergeser di kasur.

Jaman sekarang, seprai ternyata sudah menjadi lebih canggih. Demi menghindari kesulitan tali temali bak pramuka, diciptakan seprai yang sudah diberi karet pada pojokannya.

Mudah memakainya, sulit melipatnya.

Menurut salah satu pembawa acara bersih-bersih rumah di TV, begini cara melipatnya.

1. Lipat kain pada titik ujung kasur, bukan titik ujung kain. Dalam sisi yang bersamaan seperti sisi kiri kasur atau sisi kanan kasur, satu sudut dilipat ke arah luar, sudut lain ke arah dalam (detail a, detail b).

2. Masukkan sudut yang dilipat ke arah keluar (a) ke sudut yang dilipat kearah dalam (b)

3. Kerjakan juga yang sisi lain.

4. Seprai akan berbentuk seperti persegi panjang. Lipat seperti biasa.

Selamat mencoba

Mencuci gelas dengan noda membandel

Serasa iklan judulnya… hueheheheh

Pernah punya gelas yang berdaki?

Itu loh, umumnya kalau kita hobi minum teh, mungkin minum kopi juga, gelas kita jadi bernoda hitam atau coklat, jejak si teh atau si kopi.
Begitu juga dengan alat minum si anak, di sini disebutnya sippy cup (gak tahu persis bahasa Indonesianya apa), biasanya memiliki lekak lekuk yang sulit dijangkau ketika mencucinya.
Termasuk juga botol susu anak, kadang kalau sudah lama menjadi agak kehitaman atau ada noda susu yang tidak tercuci.

Dulu saya kira judulnya mencucinya kurang beres. Pernah dicoba digosok-gosok, hilang juga sih dakinya. Tapi tenaga yang terbuang untung menggosok juga lumayan.
Kalau si gelas anak, terlalu banyak sudut-sudut dan lubang-lubangnya. Memang susah aja judulnya. Juga botol susu.

Ternyata mudah saja membersihkannya. Cukup direndam sebentar di dalam larutan air dengan sedikit pemutih (yup, pemutih pakaian, bleach), bilas sebentar dengan air, cuci lagi seperti biasa menggunakan sabun. Hilang nodanya. Noda teh (kopi belum pernah coba), dan noda susu.

Amankah?

Setelah dibaca-baca, sabun mesin pencuci piring (dishwasher) itu isinya konsentrasi pemutih ternyata (bleach concentrate). Produsen botol susu bayi dan gelas anak tidak melarang untuk mencuci produknya di mesin itu. Saya masih ingat, salah satu petunjuk membersihkan gelas anak memang sekali-kali dicuci memakai pemutih. Sabun cuci piring pun sekarang ada yang dicampur dengan pemutih.
Jadi, kira-kira sih aman kayaknya.

Namun biar lebih yakin, baca-baca lagi ya…