serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Arsip untuk serba-serbi

Ameya Yokocho

Ameya Yokocho merupakan pasar atau pusat pertokoan (kecil-kecil) di dekat taman Ueno. Sepertinya menjual segala macam dari buah, ikan, makanan, pakaian, sepatu, tas, kosmetik, dan lainnya. Kabarnya ini kawasan perbelanjaan tempat orang lokal belanja.

Yang menarik dari Ameya Yokocho adalah lokasinya yang berada pada gang dibawah rel kereta api.

Toko-toko di kawasan ini juga kecil-kecil, mungkin kalau di Indonesia seukuran lapak kaki lima hanya saja bentuknya permanen. Meskipun ada juga beberapa toko dengan ukuran lebih besar. Toko yang ada juga bukan sembarang toko, ada waralaba toko sepatu, waralaba toko baju,  toko mungkin kalau di Bandung semacam distro – toko produk lokal barang-barang fashion untuk anak muda.

Jika mencari toko outlet ‘resmi’nya Anello tas kekinian itu, lokasinya di sini. Nama tokonya Magazine. Toko ini menjual Anello dengan model terbaru.

Disini juga terdapat toko cemilan, cocok untuk mencari oleh-oleh berupa makanan. Dari coklat, greentea, nori, soyu, keripik, kerupuk, abon ikan, semua ada disini. Namanya Confectionery of Niki Big Hall dan satu toko didepannya pakai huruf kanji.

Untuk makan, disini ada penjaja kebab halal namanya Moses. Ada 2 gerai, sama saja kayaknya. Sama-sama enak dan terjangkau.

 

Baca juga

https://www.jnto.go.jp/eng/spot/shopping/ameyayokochomarket.html

Iklan

Jalan-jalan ke Jepang

Berawal dari cita-cita mulia ingin mengunjungi Seoul namun belum kesampaian saja. Sebagai pecinta Kdrama, sering melihat kota Seoul (di layar kaca) dengan segala keindahannya. Seoul masuk ke  cita-cita terdekat untuk dikunjungi. Sayangnya Pak G belum berminat ke Seoul, dan exit permit pergi sendiri gak keluar-keluar. Akhirnya diputuskan bila ada rejeki main ke Jepang ramai-ramai saja.

 

Tiket..

Iseng-iseng menelusuri beberapa website penerbangan, diputuskan harga tiket ke Jepang ketika GATF cukup menarik. GATF di Bandung dipilih menjadi tempat berburu. Dekat dan tidak pakai mengantri mengular.

Setelah dilirak-lirik dan wawancara beberapa narasumber secara singkat, diputuskan untuk kali pertama ini cocoknya mengunjungi kota Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Cocoknya sekitar 8-10 hari, apadaya tiket murah di GATF hanya memperbolehkan 7 hari tinggal di Jepang. Rupanya Osaka dan Kyoto adalah 2 kota berdekatan yang berjarak sekitar 1.000 km dari Tokyo, sehingga tiket yang dipilih adalah berangkat tiba di Tokyo, pulang dari Osaka.

PR berikutnya menentukan kegiatan selama 7 hari. Peserta jalan-jalan adalah kami sekeluarga (bapak, ibu, remaja SMP, dan anak SD kelas 1) plus kakek dan nenek. Semua punya ketertarikan berbeda. 😀

Akhirnya ditentukan 5 hari di Tokyo, 1 hari di Osaka, dan 1 hari di Kyoto. Belum tahu mau  ke mana saja persisnya, yang penting bisa jadi dasar untuk mencari penginapan.

 

Penginapan.. 

Sudah sejak tinggal di Amrik, kalau jalan-jalan begini (di negara maju, minim makanan halal) kami menginap di rumah teman, saudara :D, atau di rumah orang lain melalui airbnb.com atau sejenisnya.

Mengapa tidak ke hotel?

  1. Sarapan yang biasanya disediakan hotel banyakan yang tidak halalnya, rugi kalau hanya bisa makan buah dan salad saja. 😀
  2. Fasilitas hotel yang masuk ke biaya penginapan, seringkali tidak sempat dinikmati karena sibuk jalan-jalan, kecuali memang sengaja niat ingin menikmati hotelnya – ini mah di Bandung ajalah.

Mengapa memilih rumah orang lain?

  1. Umumnya lebih murah daripada hotel.. hehehe
  2. Ada mesin cuci baju dan tempat jemur/dryer (bisa irit bawa baju, koper relatif lebih kosong, belanjaan bisa lebih banyak.. hehehe)
  3. Ada dapur (bisa masak terutama sarapan, atau perbekalan untuk makan siang)
  4. Bisa berkumpul di satu tempat, tidak terpisah-pisah. Terutama kalau jalan-jalan beramai-ramai.
  5. Menikmati tempat tinggal dan lingkungan (neighborhood) ala penduduk setempat. Bagaimana mereka bergerak, belanja, sekolah, bermain dan lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadilah.. 4 malam di Tokyo, dan 2 malam di Osaka. Kyoto hanya kurang dari 1 jam naik kereta dari Osaka, jadi ketika ke Kyoto tetap menginap di Osaka.

 

Ke mana saja??

Tokyo

Di Tokyo agendanya keliling kota, Disneyland, melihat Gundam 1:1 di Odaiba. Sederhana.

Masalahnya yang namanya keliling kota di Jepang itu seru bangeeeeeeeeet.

Banyak kawasan menarik. Tidak perlu pakai tiket, muter-muter keliling kota sudah sangat menghibur. 5 hari hanya jalan-jalan saja tidak cukup melingkupi semua keriaan kota Tokyo, belum lagi kalau pakai ingin masuk museum ini, taman itu, kuil anu, pasar itu, bangunan karya arsitek A, B.

Hmmm.. pikir-pikir kalau bisa ngulang.. maunya sekolah di Jepang.. hanya demi ingin jalan-jalan.. hehehe.

Jadi di Tokyo ke: Shinjuku, Harajuku, Omotesando, Shibuya, Disneyland, Odaiba sarangnya Gundam, Tsukiji Market, Ameya Yokocho, Ueno Park, Ginza, Tokyo Metropolitan Building, Asakusa (Senso Ji Temple), naik  boat keren dari Asakusa ke Odaiba.

Ingin tapi gak sempat: taman-taman, Akihabara, museum-museum-tadinya mau ke Miraikan, masjid, kampus.

 

Osaka..

Sadar hanya punya 1/2 hari di Osaka, tidak punya agenda ambisius. Tadinya kalau sampai Osaka agak pagi, mau mampir ke Kids Plaza – kebetulan sangat dengan stasiun menuju pengingapan untuk menghibur anak yang kecil dan ke Osaka Castle. Namun karena gak yakin bisa bangun pagi serta menghindari rush hour di kereta di Tokyo, akhirnya tiba di Osaka sudah jam 2 siang.

Gusur koper ke penginapan lalu istirahat sebentar, sudah mulai gelap.  Kids Plaza gagal, Osaka Castle sudah tutup.

Akhirnya main ke Shinsaibashi, Dotonburi dan Namba. Kawasan kota yang sangat hidup di malam hari.

 

Kyoto…

Mengunjungi 3 tempat yang selalu direkomendasikan. Hutan bambu Arashiyama, kawasan kota tua Gion, dan kuil gerbang merah Fushimi Inari Taisha.

Kyoto dan Osaka juga memiliki buanyak museum yang menarik, apadaya waktu hanya ada segitu-gitunya… tidak sempat mampir ke satupun museum.

 

Moda transportasi…

Umumnya kita mengandalkan kereta dan bis. Muacem-muacem operator, jalur, dan bentuk kereta serta bis. Cukup pakai googlemaps, cari direction, pilih yang gambar kereta, keluar semua pilihan moda transportasi dari suatu tempat ke tempat lain yang dituju lengkap dengan biayanya.

Bis dipakai untuk transportasi dari penginapan ke stasiun terdekat. Bisa saja jalan kaki dari stasiun ke penginapan. Hanya 10 menit kata yang punya rumah di airbnb dan itu berarti 1 km!!! 7 hari.. disuruh jalan tambahan 2 km dari dan ke stasiun.. gemporr.

Tiket bus harga tetap sekitar 220 yen, tiket kereta bergantung jarak tapi dengan jarak sama lebih murah daripada naik bus. Jadi kalau bisa, cari penginapan yang tidak perlu naik bus lagi. Semakin dekat dengan stasiun kereta semakin baik.

Naik taksi untuk jarak dekat dengan 4 penumpang, tidak terlalu berbeda dengan naik kendaraan umum. Pernah pulang kemaleman, bis sudah tidak ada, jalan kaki kejauhan, kaki sudah tak bertenaga, mata sudah keleyep-keleyep.. ya sudahlah yaaa.

Kereta sampai jam 1 malam masih ada, bus sebelum jam 12 malam sudah tidak ada.

Untuk memudahkan transaksi tiket kereta dan bis, kami memakai kartu e-money PASMO  (bila beli di area Tokyo) yang bisa dipakai di semua kereta dan bis di Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Bisa dibeli di airport di Tokyo dan diisi ulang di semua stasiun kereta.

Apabila membeli kartu e-money dari area lain, namanya berbeda dan jangkauannya berbeda juga. Silakan dicek kartu e-moneynya berlaku di mana saja. Misal di Osaka nama kartunya ICOCA, kurang paham jangkauannya sampai mana.

Pindah dari Tokyo ke Osaka yang berjarak 1000km menggunakan kereta cepat Shinkansen.. kapan laaaagi. Sepanjang Pulau Jawa hanya ditempuh dalam 3 jam. Tiketnya mahal, sekitar 1,8 jt satu kali jalan.

Sebetulnya ada tiket terusan namanya JR Pass dari perusahaan Japan Railway, yang mengoperasikan Shinkansen. Sekitar 3,3 juta berlaku 1 minggu gitu ya sepuasnya memakai kereta dan bis yang dioperasikan perusahaan JR  (ada juga jalur kereta dan bis yang tidak dilayani JR Pass) di seluruh Jepang, dalam dan luar kota. JR Pass ini hanya bisa dibeli dari luar Jepang sepertinya lewat agen travel atau online (belum pernah mencoba).

Namun karena kemarin kereta mahalnya hanya dipakai 1 kali saja dari Tokyo ke Osaka, setelah dihitung-hitung (pakai googlemaps atau hyperdia.com) untuk kami tetap lebih ekonomis tidak memakai tiket terusan ini.

Untuk perjalanan ini kami menghabiskan sekitar 9.000 yen di PASMO, dan 14.450 yen untuk Shinkansen atau sekitar 2,8 juta rupiah (kurs 120).

Jika isi PASMO masih ada sisa, jangan khawatir.. belanjakan saja di bandara hingga tidak bersisa. PASMO bisa dipakai belanja di vending machine, minimarket, dan tempat lain yang ada stiker PASMO nya.

 

Makanan halal…

Makanan halal hampir di tiap spot wisata ada. Tinggal download apps Halal Gourmet Japan (lainnya juga ada), sangat membantu.

Yang kemarin kami selalu hindari adalah ramen di tempat yang tidak halal karena umumnya memakai kuah babi, daging ayam dan daging sapi karena tidak disembelih dengan cara halal kecuali dari tempat halal. Cemilan, kue, dan roti-rotian juga dihindari.. daripada buang waktu baca bahan-bahan dari tulisan kanji.

Cukup banyak artikel yang membahas makanan halal di Jepang, silakan ditelusuri.

Harusnya makan pagi bisa masak di penginapan.. apadaya ketika di Tokyo lupa mencari penginapan yang menyediakan rice cooker (disana listriknya 110 watt, repot kalau bawa-bawa dari sini). Jadilah onigiri hasil belanja di minimarket malam sebelumnya serta mie instan, abon, dan makanan keringan bawa dari Indonesia (mie instan di sana umumnya tidak halal) menjadi penyelamat raga.

Bila kepepet kelaparan di tempat yang tidak ada makanan halalnya, cukup mampir ke minimarket biasanya jual nasi matang (saja), telur rebus (saja), dendeng ikan-ikan (saja), salad, buah.  Dicampur-campur kenyang juga, enak jugalah.

 

Kurang Yen??

Karena banyak juga tempat jajanan yang hanya terima uang tunai, maka uang yen harus selalu tersedia di dompet.

Jika kekurangan Yen di sana, cukup cari ATM Seven Eleven Bank biasanya terdapat di minimarket seven eleven yang dapat dijumpai di banyak tempat. Pakai kartu ATM bank Indonesia, tarik saja uang yen dari ATM tersebut (adalah pilihan menu berbahasa Indonesia). Sekali tarik maksimal 30.000 yen dengan biaya  penarikanRp 25.000 saja. Kurs yang dipakai adalah kurs pada saat itu di bank kita.

 

Koneksi Internet

Benda sangat penting yang perlu dipunya selain paspor dan uang. Hehehe. Berhubung ternyata orang Jepang jarang banget yang bisa bahasa Inggris, internet dengan telepon pintar menjadi sumber utama tempat bertanya.

Kemarin kami mencari penginapan yang juga menyediakan pocket wifi (rupanyaaa… bentuknya..dipinjamkan handphone lengkap dengan paket data di dalamnya). Berhubung kami berenam dengan ketertarikan berbeda sehingga beresiko berpencar, beberapa handphone juga memiliki paket data sendiri memakai paket roamingnya provider Indonesia dan Singapura (kebetulan punya dengan harga paket lebih murah daripada provider Indonesia).

Di bandara di Jepang juga kalau tidak salah ada penyewaan pocket wifi (silakan googling).

 

Yang paling disuka..

WC sebagian besar pakai penyemprot air, dikasih bunyi-bunyian penenang jiwa, dan pengering (bukan pengering tangan atau rambut yaaa). Menyenangkan.

Penduduk setempat sangat ramah dan senang membantu meskipun mereka sangat jarang yang bisa berbahasa Inggris, apalagi Indonesia. 😀 Pernah minta ditunjukin arah jalan, eh.. malah diantar sampai tujuan. Jadi (gak) enak.. 😀

Surga belanja.. sungguh tidak disangka.. buanyak buanget toko.. *makmakbahagiamodeon. Dari mulai toko butik super mahal, hingga kelas warung ada semua. Silakan pilih mau belanja dimana, sesuai dengan isi kantong.

 

Peringatan

Semua ini dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 8 km/hari. Meskipun demikian, pulang dari perjalanan ini berat badan naik 2 kg. 😛

Berhubung ke mana-mana mengandalkan transportasi umum demi penghematan, koper-koper pun wira-wiri naik bus dan kereta. Dengan demikian sangat disarankan untuk membawa koper seoptimal mungkin demi kemudahan menggusurnya. Koper besar dan medium lebih disarankan daripada koper kecil (sesuaikan dengan kapasitas bagasi di pesawat), sama saja bikin repot tangan tapi daya tampung lebih besar.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman 7 hari di Jepang dan beberapa waktu menelusuri internet termasuk youtube… Tentunya banyak berita yang mungkin sekali salah, mohon maaf. Selalu cek dan ricek lagi yaaa.

 

Kesimpulan

Jepang seru. Jalan-jalan sendiri tanpa agen travel sangat memungkinkan, harusnya lebih murah, dan lebih sesuai minat.

 

 

 

Rumah Bermain Padi – Montessori Islami – Playgroup/TK

Untuk Rumah Bermain Padi…

Jl. Cigadung Raya Timur 106, Bandung

022-2500372

Rumah Bermain Padi adalah bagaikan oasis di tengah padang pasir. Dengan halamannya yang luas dan hijau, bangunan yang unik, mainan dan alat peraga yang sangat banyak, serta perbandingan guru murid yang memadai telah menjawab kedahagaan atas fasilitas pendidikan yang baik untuk anak Dhika. Cinta pada pandangan pertama.

Dalam perjalanannya Rumah Bermain Padi tidak hanya memberikan fasilitas fisik yang baik namun juga telah memberikan fasilitas non fisik yang sangat memuaskan. Bunda yang sangat penyabar dan perhatian terhadap muridnya, materi pelajaran yang sangat luas, serta metoda pengajaran yang unik dan mudah dicerna oleh anak-anak.

Montessori bernafaskan Islami yang pada awalnya bukan merupakan prioritas dalam pemilihan sekolah ternyata telah berjasa dalam memperkenalkan anak atas konsep-konsep pelajaran dan pengetahuan pada tingkat selanjutnya, kehidupan sehari-hari, dan yang terpenting adalah pengenalan terhadap agamanya sendiri yakni Islam.

Terima kasih untuk Bunda Julia yang telah membuat fasilitas yang sangat nyaman dan membawa virus Montessori ke Bandung serta mengolahnya menjadi lebih menarik dengan memberikan nafas Islami ke dalamnya.

Terima kasih untuk para Bunda yang sudah begitu sabar dan telaten memperkenalkan ‘dunia’ kepada Dhika serta memfasilitasi dan membantunya dalam belajar bersosialisasi dengan teman-temannya.

Terima kasih untuk Pak Ijang dan teman-temannya yang telah membantu menjaga dan juga melayani keperluan anak-anak.

Mohon maaf jika selama ini kami melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan Bunda dan Bapak sekalian.

Semoga silaturahmi yang terjalin dapat terus berlanjut.

Mengapa memasak untuk bayi?

Berbagai alasan saya pakai ketika anak saya bayi dan saya memasak hampir semua makanan yang dia makan.

1. Terjamin halal (dulu saya di Amrik ketika anak saya bayi)

2. Irit

3. Bebas pengawet

4. Jelas bahan bakunya, jelas kandungan gizinya

5. Mudah, ternyata tidak sesulit yang pernah dibayangkan (lebih sulit menyiapkan makanan untuk bapaknya 😀 ). Silakan membaca https://ndew.wordpress.com/2007/03/13/membuat-makanan-bayi-sendiri/

Namun dengan hanya berbekal 5 poin di atas, tanpa disangka didapat bonus juga. Hingga kini anak saya (5 thn) tidak hobi jajan, tidak hobi memakan makanan ringan kemasan, dan sangat cepat menyatukan selera makan dengan kami orangtuanya.

Usia 10 bulan sudah memakan nasi (digecek-gecek) memakai sup sayur (sayurnya dipotong kecil-kecil sekali), tanpa diblender. Sekarang sudah bisa makan hampir semua makanan saya, kecuali makanan yang terlalu pedas (sedikit pedas, alhamdulillah sudah bisa).

Jika ada cookies, wafer, atau keripik dan cemilan kemasan lainnya yang penuh pengawet, gula, dan msg di rumah kami, lebih sering benda-benda itu berakhir di tempat sampah dibandingkan di perut anak saya.

Juga dengan cemilan-cemilan bukan kemasan lainnya seperti gorengan, jajajan pasar, atau kue-kue, alhamdulillah beliau tidak begitu tertarik. Lebih senang mengemil buah-buahan segar.

Diluar perkiraan, ternyata jerih payah  dahulu memasak untuk bayi saya memberikan hasil yang lebih dari sekedar pengiritan.

Jadi, mengapa tidak memasak untuk bayi?

Apakah minuman kemasan baik untuk kesehatan?

Tahukah anda berapa banyak gula yang terkandung di dalam minuman kemasan anda?

Minuman kemasan yang dimaksud adalah minuman yang sudah dikemas di dalam kaleng atau botol atau kotak, yang sudah siap anda minum tanpa harus memasaknya lagi.

Beruntung sekarang pemerintah sepertinya sudah mewajibkan para produsen makanan/minuman untuk mencantumkan kandungan gizi produknya di dalam kemasannya. Dengan demikian anda dapat dengan mudah melihat berapa banyak kandungan salah satunya gula (sugar)  di dalam minuman kemasan anda.

Sering tercantum 32 gr, 24 gr, dsb.

Berapa banyakkah 32 gr gula itu?

Menurut Joy Bauer seorang ahli nutrisi dalam http://www.msnbc.msn.com/id/10879824/, 1 sendok teh gula itu berarti sama dengan 4 gr gula.

Jadi, 32 gr gula itu sama dengan 8 sendok teh gula.

Bayangkan anda membuat secangkir teh manis atau kopi atau susu atau jus jeruk dengan tambahan gula sebanyak 8 sendok teh!

Bayangkan jika anda memberikan susu/jus dalam kemasan kepada anak anda 2 atau 3 kali sehari, berapa banyak gula yang sudah mereka telan?

Jadi apa salahnya kebanyakan mengkonsumsi gula?

Itu cerita lain lagi.. tapi silakan cari jawabannya dengan kata kunci obesitas (kegemukan) dan diabetes

Membuat Kompos di Rumah

Terdapat berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat bantu untuk membuat kompos.
Sepertinya salah satu cara yang paling sederhana dan tidak memerlukan modal adalah membuat kompos dengan bantuan cacing tanah. Hasil pembuatan kompos dengan bantuan cacing ini biasa juga disebut vermikompos.  Vermikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karena itu vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Bagaimana bisa tanpa modal?

Bahan utama pembuatan vermikompos adalah cacing tanah dan bahan-bahan organik untuk makanan sang cacing.
Cacing tanah, kira-kira di setiap tanah terbuka, halaman rumah, atau kebun memiliki cacing tanah.
Bahan organik, gunakan bahan organik dari sampah rumah tangga anda (silakan baca tulisan Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga).

Apakah bau atau menjijikan?

Selain geli melihat sang cacing, pembuatan vermikompos ini jauh dari jijik dan bau. Karena setiap proses pengomposan yang berhasil memang tidak akan berbau, lain halnya jika terjadi pembusukan.

Caranya
Untuk yang mempunyai halaman
Gunakan ember atau tong sampah atau keranjang cucian yang berlubang berukuran agak besar, beri lubang bagian bawahnya atau bisa juga hanya digundukkan di halaman.
1. Siapkan cacing beserta sedikit tanah untuk tempat tinggal cacing sementara kompos belum jadi pada bagian bawah wadah yang dipakai.
2. Masukan sampah rumah tangga atau bahan organik lainnya ke dalam wadah bercacing. Setiap kali akan menambah bahan organik, ada baiknya isi wadah diaduk terlebih dahulu.
3. Vermikompos telah siap pakai apabila dengan warna hitam kecoklatan hingga hitam, tidak berbau, bertekstur remah.
4. Cara memanen vermikompos adalah dengan menumpahkan isi wadah di bawah sinar matahari. Cacing tanah akan bersembunyi ke dalam hasil kompos karena menghindari cahaya, sementara bagian atasnya merupakan kompos yang siap digunakan.
Sisakan cacing dan sedikit hasil kompos untuk membuat kompos yang berikutnya.

Untuk yang tidak mempunyai halaman
Jangan bersedih hati atau beralasan tidak bisa memanfaatkan sampah organik rumah tangga karena tidak memiliki halaman.
Karena ternyata bisa juga membuat kompos di dalam ruangan.

1. Siapkan rak vermikompos yang bisa dibeli di toko pertanian, atau buatlah rak susun dari kayu/ rak plastik seperti filling kabinet (minta bantuan tukang furniture, buat yang cantik), raknya model vertikal pindah dari atas ke bawah dengan 4 laci, tinggi antar laci kira 15 – 30 cm. Tiga diantara laci tersebut diberi lubang agar cacing bisa leluasa naik turun. Biasanya cacing akan naik dari rak paling bawah. (cara ini memungkinkan kita tidak bersentuhan dengan cacing)
2. Siapkan media kehidupan bagi cacing (seperti rumah yang nyaman) selain itu media ini juga sebagai pakan awalnya. Bisa menggunakan tanah tempat tinggal sang cacing. Cacing dan media awal disimpan di laci paling bawah (tanpa lubang dibagian bawahnya) setinggi 2/3 laci.
3. Lokasinya harus mudah diawasi dan tidak terkena matahari/hujan secara langsung
4. Masukan sampah organik yang diproduksi setiap hari di atas media awal. (B. C. D laci berlubang) nantinya cacing dengan sendirinya akan merayap ke atas, jika sudah melahap habis media awal.
7. lakukan perguliran media secara rutin jika media paling bawah (A) sudah habis dan tinggal butiran hitam yang berupa kokon (telur cacing) keluarkan dan balik di terik matahari, cacing muda akan berkumpul di bawah menghindari cahaya. Anda tinggal panen kascing dari atas.
8. Isi media dengan sampah, masukkan cacing muda ke media (laci B, C, D) yang sudah jadi , begitu seterusnya
9. Laci B, C, D ini berisi sampah organik dari dapur anda, pastikan tidak mengandung lemak, atau pisahkan yang berlemak masukkan ke dalam lubang biopori.
10. Satu laci bisa memuat sampah setara 40 kg yang mampu dilahap cacing selama 30 hari, sehingga sampah di rak atas atau bawahnya sudah siap menjadi media baru cacing.
11. Musuh cacing pasti ada yaitu semut dan tikus, kecoa pastikan mereka tidak mendekat dengan cara menggarisi rak dengan kapur anti semut/kecoa. Untuk tikus asalkan sampah tidak tercecer dan rak tertutup rapat maka tikus tidak akan menyantroni rak anda
Sumber:

Ritapunto, SEI – Bekasi, Oktober 2008, wikimu.com
IPPTP Mataram , kascing.com

Apa kabar Indonesia?

Tentu tidak sebersih dan seteratur Amerika, itu sudah saya perkirakan.

Harga sayuran sangat murah dibandingkan di Baltimore. 1 ikat kangkung hanya seribu rupiah, bandingkan dengan harga yang hampir $2.00 per ponnya di Amerika sana.
Harga daging dan ayam agaknya hampir sama dengan di US.
Harga ikan.. belum terlalu jelas, diduga agak lebih murah.

Kota Bandung semakin padat, sepertinya tidak boleh ada sepenggal tanah pun yang tidak dijadikan tempat tinggal atau tempat usaha. Beberapa lahan yang 3 tahun lalu seperti tak bertuan sekarang sudah berubah menjadi kios usaha.

Soal makanan, jangan ditanya. Sejauh ini Bandung masih surganya dari kelas pinggir jalan sampai kafe. Hanya sayangnya saya belum berani mencoba makanan yang terlalu aneh-aneh dan terlalu di pinggir jalan. Tunggu perut dan badan adaptasi dulu daripada harus menjadi sahabat kamar mandi.

Angkutan kota? Biayanya masih sama dengan setahun yang lalu. Kira-kira Rp 1.500 –  Rp 2.000 sekali jalan. Masih belum teratur dan masih rajin ‘ngetem’.

Jalan Dago? (penggal jalan Riau hingga pasar Simpang) Wuih! Gila! Super mengejutkan! Benar-benar menjadi pusat kegiatan ekonomi. Dari hotel bintang 4 atau 5 itu ya, Factory Outlet, restoran, kantor, sampai bengkel dan dealer mobil bahkan tempat pengisian bensin besar ada disini.

Satu hal yang membuat saya sangat terkejut.
Polusi. Iya, polusi udara.
Sangat berubah warna udara di kota tercintaku ini dibandingkan dengan 3 tahun atau bahkan tahun lalu. Di mana-mana sudah bukan tak berwarna atau coklat lagi, melainkan kebiru-biruan. Sangat jelas itu diakibatkan dari gas buangan kendaraan bermotor yang jelas juga terlihat sangat banyak populasinya.
Pernah saya tanyakan ke Bapak saya, “Memangnya tidak ada uji emisi ya?”
“Yah, beginilah negara kalau belum makmur, belum memikirkan hal-hal yang seperti itu.”, katanya.

Untungnya kalau malam masih dingin, kalau ke rumah nenek masih selalu tersedia makanan di meja makannya dan disambut dengan hangat, kalau berjalan masih perlu lirik kiri kanan karena mungkin berpapasan dengan teman atau ada orang yang ingin berbagi senyumnya dengan saya.
Priceless.