serba-serbi

dipikir-pikir isinya ibu-ibu sekali…. (bapak-bapak gak usah takut gitu dong)

Berat badan anak

Dalam tulisan ini saya menyoroti makanan dan minuman yang membuat berat badan meningkat secara langsung, bukan yang meningkatkan nafsu makan.

Setiap orang tua pasti ada masanya mempermasalahkan berat badan anaknya.

Kurang berat, umumnya.

Diberikanlah makanan dan minuman ajaib ini itu yang dapat membuat berat badan sang anak meningkat. Produk canggih A, B, dan C menjadi pilihan penyelesaian masalah berat badan ini berapapun biayanya dengan dalil demi kebaikan anak.

Jika dipikir lagi, apakah produk-produk ini menyelesaikan masalah pokok kurangnya berat badan anak kita  yang mungkin disebabkan oleh  anak kita tidak suka makan atau memang bawaan genetis yang kecil?

Apa gunanya ukuran badan anak kita menjadi besar, namun tidak bisa belajar makan dengan cara dan menu yang baik?

Apa gunanya memaksa anak yang bawaan genetisnya kecil menjadi besar sehingga walau sudah diberi makan sebakul pun dia tetap kecil?

Hanya karena demi anaknya enak dilihat karena tidak tampak kurus? Atau tidak malu jika anaknya kemudian disandingkan dengan anak lain yang montok?

Apakah anak kita menikmati badannya yang besar ini? Mungkin juga tidak. Mungkin dia lebih suka badannya kurus-kurus saja karena bisa lebih mudah jingkrak-jingkrak.

Apa salahnya memiliki anak yang kurus jika dia sudah terpenuhi asupan gizinya melalui makanan ‘asli’.

Saya tidak pernah ingat diri saya bertubuh montok pada saat kecil; namun seiring dengan waktu badan saya membesar juga, alhamdulillah bisa kuliah di ITB juga.

Menurut saya memastikan bahwa anak memakan dan terbiasa memakan makanan ‘asli’  bergizi lengkap lebih penting daripada sekedar meningkatkan berat badannya.

Terlalu banyak makanan di bumi ini untuk dijelajahi. Beribu resep sudah tercipta untuk mengolah bahan makanan tersebut. Mari bereksplorasi, berpetualang dalam menyajikan makanan yang terbaik untuk anak kita. Jangan cepat putus harapan dan beralih ke produk instan yang hanya  menghilangkan sakit kepala kita dalam mengatasi masalah makan  anak.

Berat badan anak saya ketika bayi -batita tidak pernah berada lebih dari rata-rata berat bayi pada umumnya, namun saat ini alhamdulilah dia tumbuh juga, membesar juga, makan banyak juga, kuat juga, dan pintar juga. Dan saya tidak menggantungkan diri kepada produk-produk ajaib itu (pernah sebentar, lalu berhenti – lihat ini).

Tidak sampai berperut buncit sih… (siapa juga yang perlu perut buncit)

Cukuplah…

Seperti kata dokternya ketika masih di Amrik:

Selama berat badan anaknya meningkat…. It’s OK!

Iklan

Mengapa memasak untuk bayi?

Berbagai alasan saya pakai ketika anak saya bayi dan saya memasak hampir semua makanan yang dia makan.

1. Terjamin halal (dulu saya di Amrik ketika anak saya bayi)

2. Irit

3. Bebas pengawet

4. Jelas bahan bakunya, jelas kandungan gizinya

5. Mudah, ternyata tidak sesulit yang pernah dibayangkan (lebih sulit menyiapkan makanan untuk bapaknya 😀 ). Silakan membaca https://ndew.wordpress.com/2007/03/13/membuat-makanan-bayi-sendiri/

Namun dengan hanya berbekal 5 poin di atas, tanpa disangka didapat bonus juga. Hingga kini anak saya (5 thn) tidak hobi jajan, tidak hobi memakan makanan ringan kemasan, dan sangat cepat menyatukan selera makan dengan kami orangtuanya.

Usia 10 bulan sudah memakan nasi (digecek-gecek) memakai sup sayur (sayurnya dipotong kecil-kecil sekali), tanpa diblender. Sekarang sudah bisa makan hampir semua makanan saya, kecuali makanan yang terlalu pedas (sedikit pedas, alhamdulillah sudah bisa).

Jika ada cookies, wafer, atau keripik dan cemilan kemasan lainnya yang penuh pengawet, gula, dan msg di rumah kami, lebih sering benda-benda itu berakhir di tempat sampah dibandingkan di perut anak saya.

Juga dengan cemilan-cemilan bukan kemasan lainnya seperti gorengan, jajajan pasar, atau kue-kue, alhamdulillah beliau tidak begitu tertarik. Lebih senang mengemil buah-buahan segar.

Diluar perkiraan, ternyata jerih payah  dahulu memasak untuk bayi saya memberikan hasil yang lebih dari sekedar pengiritan.

Jadi, mengapa tidak memasak untuk bayi?

Apakah minuman kemasan baik untuk kesehatan?

Tahukah anda berapa banyak gula yang terkandung di dalam minuman kemasan anda?

Minuman kemasan yang dimaksud adalah minuman yang sudah dikemas di dalam kaleng atau botol atau kotak, yang sudah siap anda minum tanpa harus memasaknya lagi.

Beruntung sekarang pemerintah sepertinya sudah mewajibkan para produsen makanan/minuman untuk mencantumkan kandungan gizi produknya di dalam kemasannya. Dengan demikian anda dapat dengan mudah melihat berapa banyak kandungan salah satunya gula (sugar)  di dalam minuman kemasan anda.

Sering tercantum 32 gr, 24 gr, dsb.

Berapa banyakkah 32 gr gula itu?

Menurut Joy Bauer seorang ahli nutrisi dalam http://www.msnbc.msn.com/id/10879824/, 1 sendok teh gula itu berarti sama dengan 4 gr gula.

Jadi, 32 gr gula itu sama dengan 8 sendok teh gula.

Bayangkan anda membuat secangkir teh manis atau kopi atau susu atau jus jeruk dengan tambahan gula sebanyak 8 sendok teh!

Bayangkan jika anda memberikan susu/jus dalam kemasan kepada anak anda 2 atau 3 kali sehari, berapa banyak gula yang sudah mereka telan?

Jadi apa salahnya kebanyakan mengkonsumsi gula?

Itu cerita lain lagi.. tapi silakan cari jawabannya dengan kata kunci obesitas (kegemukan) dan diabetes

Streets for Life

Taken from:

Streets for Life, Inclusive Urban Design

by Elizabeth Burton& Lynne Mitchell, 2006, Elsevier Ltd

Streets for Life:
1. Streets that residents find easey and enjeoyable to uses as they grow older in their neighborboods, allwong them to continue living at home if they want to
2. Steets that are inclusive- they are easy and enjoyable to use by all members of society, including older people with dementia

Key design feature of Streets for Life
1. Small blocks laid out on an irregular grid (with minimal crossroads)
2. A hierarchy of streets from main to side
3. Gently winding streets
4. Varied urban form and architecture
5. A mix of uses, including plenty of services and facilities and open space
6. Busy routes with buffer zone between road and footway
7. Buildings designe to reflect uses
8. Buildings with obvious entrances
9. Landmarks, distinctive structures and places of activity
10. Special/distinctive features at junctions
11. Wide, smooth, non-slip footways (without cycle lanes)
12. Frequent road crossings with audible and visual cues suitable for older people
13. Clearly marked level changes, with handrails
14. Clear signs throughout
15. Frequent wooden seating, with arm and backrest
16. Enclosed bus shelters, with seating
17. Ground level toilets

Membuat Kompos di Rumah

Terdapat berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat bantu untuk membuat kompos.
Sepertinya salah satu cara yang paling sederhana dan tidak memerlukan modal adalah membuat kompos dengan bantuan cacing tanah. Hasil pembuatan kompos dengan bantuan cacing ini biasa juga disebut vermikompos.  Vermikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah (casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karena itu vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Bagaimana bisa tanpa modal?

Bahan utama pembuatan vermikompos adalah cacing tanah dan bahan-bahan organik untuk makanan sang cacing.
Cacing tanah, kira-kira di setiap tanah terbuka, halaman rumah, atau kebun memiliki cacing tanah.
Bahan organik, gunakan bahan organik dari sampah rumah tangga anda (silakan baca tulisan Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga).

Apakah bau atau menjijikan?

Selain geli melihat sang cacing, pembuatan vermikompos ini jauh dari jijik dan bau. Karena setiap proses pengomposan yang berhasil memang tidak akan berbau, lain halnya jika terjadi pembusukan.

Caranya
Untuk yang mempunyai halaman
Gunakan ember atau tong sampah atau keranjang cucian yang berlubang berukuran agak besar, beri lubang bagian bawahnya atau bisa juga hanya digundukkan di halaman.
1. Siapkan cacing beserta sedikit tanah untuk tempat tinggal cacing sementara kompos belum jadi pada bagian bawah wadah yang dipakai.
2. Masukan sampah rumah tangga atau bahan organik lainnya ke dalam wadah bercacing. Setiap kali akan menambah bahan organik, ada baiknya isi wadah diaduk terlebih dahulu.
3. Vermikompos telah siap pakai apabila dengan warna hitam kecoklatan hingga hitam, tidak berbau, bertekstur remah.
4. Cara memanen vermikompos adalah dengan menumpahkan isi wadah di bawah sinar matahari. Cacing tanah akan bersembunyi ke dalam hasil kompos karena menghindari cahaya, sementara bagian atasnya merupakan kompos yang siap digunakan.
Sisakan cacing dan sedikit hasil kompos untuk membuat kompos yang berikutnya.

Untuk yang tidak mempunyai halaman
Jangan bersedih hati atau beralasan tidak bisa memanfaatkan sampah organik rumah tangga karena tidak memiliki halaman.
Karena ternyata bisa juga membuat kompos di dalam ruangan.

1. Siapkan rak vermikompos yang bisa dibeli di toko pertanian, atau buatlah rak susun dari kayu/ rak plastik seperti filling kabinet (minta bantuan tukang furniture, buat yang cantik), raknya model vertikal pindah dari atas ke bawah dengan 4 laci, tinggi antar laci kira 15 – 30 cm. Tiga diantara laci tersebut diberi lubang agar cacing bisa leluasa naik turun. Biasanya cacing akan naik dari rak paling bawah. (cara ini memungkinkan kita tidak bersentuhan dengan cacing)
2. Siapkan media kehidupan bagi cacing (seperti rumah yang nyaman) selain itu media ini juga sebagai pakan awalnya. Bisa menggunakan tanah tempat tinggal sang cacing. Cacing dan media awal disimpan di laci paling bawah (tanpa lubang dibagian bawahnya) setinggi 2/3 laci.
3. Lokasinya harus mudah diawasi dan tidak terkena matahari/hujan secara langsung
4. Masukan sampah organik yang diproduksi setiap hari di atas media awal. (B. C. D laci berlubang) nantinya cacing dengan sendirinya akan merayap ke atas, jika sudah melahap habis media awal.
7. lakukan perguliran media secara rutin jika media paling bawah (A) sudah habis dan tinggal butiran hitam yang berupa kokon (telur cacing) keluarkan dan balik di terik matahari, cacing muda akan berkumpul di bawah menghindari cahaya. Anda tinggal panen kascing dari atas.
8. Isi media dengan sampah, masukkan cacing muda ke media (laci B, C, D) yang sudah jadi , begitu seterusnya
9. Laci B, C, D ini berisi sampah organik dari dapur anda, pastikan tidak mengandung lemak, atau pisahkan yang berlemak masukkan ke dalam lubang biopori.
10. Satu laci bisa memuat sampah setara 40 kg yang mampu dilahap cacing selama 30 hari, sehingga sampah di rak atas atau bawahnya sudah siap menjadi media baru cacing.
11. Musuh cacing pasti ada yaitu semut dan tikus, kecoa pastikan mereka tidak mendekat dengan cara menggarisi rak dengan kapur anti semut/kecoa. Untuk tikus asalkan sampah tidak tercecer dan rak tertutup rapat maka tikus tidak akan menyantroni rak anda
Sumber:

Ritapunto, SEI – Bekasi, Oktober 2008, wikimu.com
IPPTP Mataram , kascing.com

Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga

c_recycle_bin_ikea
Pernah melihat gunungan sampah di TPA (tempat pembuangan sampah akhir)?

Semakin hari semakin tinggi gunungan sampah di TPA. Di kota Bandung sempat menjadi masalah besar sendiri ketika TPA lama sudah penuh dan belum ada lahan pengganti untuk TPA baru. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA katanya berasal dari sampah rumah tangga. Iya, sampah rumah kita semua.

Daripada menggerutu dan menanti-nantikan aksi dari pemerintah, kita bisa melakukan usaha kecil-kecilan di rumah sendiri untuk mengurangi masalah sampah ini.

Anda tentu pernah tahu ada beberapa saudara kita yang bekerja sebagai pemulung dari tempat-tempat sampah.Atau tukang loak yang bisa membeli segala ‘sampah’ dirumah anda umumnya dengan menimbang berat barang yang anda kumpulkan.

Apa yang mereka pulung?
Apapun yang mereka bisa jual kembali baik secara langsung atau tidak langsung kepada para usahawan pendaur ulang.
Plastik, bekas gelas/botol minum plastik, botol kaca, kertas, dus, atau apapun yang bisa didaur ulang alias bisa dimanfaatkan kembali.

Semakin bersih benda-benda di atas, semakin baik dan semakin mudah untuk didaur ulang. Kalau sampah yang bisa didaur ulang ini sudah tercampur dengan sampah basah di rumah anda, lebih susah memilahnya dan memanfaatkannya.

Apa yang dimaksud dengan sampah basah?
Segala sampah yang bisa membusuk. Sisa potongan sayur untuk memasak, daging, makanan sisa, daun-daun yang berguguran, potongan rumput, dsb.

Jadi bagaimana caranya memilah sampah?
Idealnya di rumah anda disediakan tiga buah tempat sampah;
1. untuk sampah basah atau kadang disebut sampah organik
2. untuk sampah plastik, kaleng, dan kaca
3. untuk sampah kertas

Sampah plastik, kaleng, kaca, dan kertas bisa anda kumpulkan dan jual ke tukang loak atau dibuang juga ke tempat pembuangan sampah dan kira-kira cukup membantu para pemulung untuk mendapatkan barang yang agak bersih.

Idealnya sih mungkin TPA pemerintah juga terdiri dari tiga kategori pembagian sampah ini,  tapi.. mungkin pemerintah menunggu percontohan dari para warganya dulu 😀

Bagaimana dengan sampah basahnya?
Bisa anda buang juga, namun lebih baik dimanfaatkan lagi sendiri. Saat ini saya sedang mencoba memanfaatkan sampah basah saya untuk membuat kompos (pupuk alami) yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Bagaimana caranya? Semoga bisa bersambung ditulisan berikutnya.

Apa kabar Indonesia?

Tentu tidak sebersih dan seteratur Amerika, itu sudah saya perkirakan.

Harga sayuran sangat murah dibandingkan di Baltimore. 1 ikat kangkung hanya seribu rupiah, bandingkan dengan harga yang hampir $2.00 per ponnya di Amerika sana.
Harga daging dan ayam agaknya hampir sama dengan di US.
Harga ikan.. belum terlalu jelas, diduga agak lebih murah.

Kota Bandung semakin padat, sepertinya tidak boleh ada sepenggal tanah pun yang tidak dijadikan tempat tinggal atau tempat usaha. Beberapa lahan yang 3 tahun lalu seperti tak bertuan sekarang sudah berubah menjadi kios usaha.

Soal makanan, jangan ditanya. Sejauh ini Bandung masih surganya dari kelas pinggir jalan sampai kafe. Hanya sayangnya saya belum berani mencoba makanan yang terlalu aneh-aneh dan terlalu di pinggir jalan. Tunggu perut dan badan adaptasi dulu daripada harus menjadi sahabat kamar mandi.

Angkutan kota? Biayanya masih sama dengan setahun yang lalu. Kira-kira Rp 1.500 –  Rp 2.000 sekali jalan. Masih belum teratur dan masih rajin ‘ngetem’.

Jalan Dago? (penggal jalan Riau hingga pasar Simpang) Wuih! Gila! Super mengejutkan! Benar-benar menjadi pusat kegiatan ekonomi. Dari hotel bintang 4 atau 5 itu ya, Factory Outlet, restoran, kantor, sampai bengkel dan dealer mobil bahkan tempat pengisian bensin besar ada disini.

Satu hal yang membuat saya sangat terkejut.
Polusi. Iya, polusi udara.
Sangat berubah warna udara di kota tercintaku ini dibandingkan dengan 3 tahun atau bahkan tahun lalu. Di mana-mana sudah bukan tak berwarna atau coklat lagi, melainkan kebiru-biruan. Sangat jelas itu diakibatkan dari gas buangan kendaraan bermotor yang jelas juga terlihat sangat banyak populasinya.
Pernah saya tanyakan ke Bapak saya, “Memangnya tidak ada uji emisi ya?”
“Yah, beginilah negara kalau belum makmur, belum memikirkan hal-hal yang seperti itu.”, katanya.

Untungnya kalau malam masih dingin, kalau ke rumah nenek masih selalu tersedia makanan di meja makannya dan disambut dengan hangat, kalau berjalan masih perlu lirik kiri kanan karena mungkin berpapasan dengan teman atau ada orang yang ingin berbagi senyumnya dengan saya.
Priceless.